Senin, 01 Juni 2015

Perjuangan Melintasi Tembok Rasisme



Judul: Menembus Badai
Penulis: Wu Da Ying dan Peilin Go
Penerbit: Galang Pustaka, 2015
Tebal: 396 Halaman

Menjadi kelompok minoritas memang hampir selalu tak menyenangkan. Dianaktirikan, ditindas atau bahkan dihilangkan hak-hak yang dimiliki secara sepihak, adalah sesuatu yang mungkin dihadapi. Dua hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi hal ini. Pertama, bertahan dan menghadapi segalanya. Kedua, menyerah dan mencari ruang yang dapat menerima keberadaan kelompoknya.

Buku ini memberikan contoh bagaimana seseorang yang menjadi bagian dari kelompok minoritas memperoleh perlakuan yang tidak menyenangkan dari penguasa, dalam hal ini Orde Baru. Dengan bahan memori dan sejumlah literatur, Wu Da Ying menggambarkan bagaimana kelompok minoritas keturunan Tionghoa diperlakukan secara tidak adil oleh penguasa.

Membubarkan sekolah Tionghoa tanpa memberikan solusi bagi para guru ataupun siswa, dinilai sebuah tindakan perampasan hak warga negara. Bayangkan saja, ketika sekolah-sekolah itu ditutup, kemana para siswa harus melanjutkan sekolah? Bagaimana nasib para guru sekolah tersebut.

Wu Da Ying, yang lama tinggal di Indonesia secara jelas mempertanyakan alasan-alasan yang digunakan oleh penguasa untuk menutup sekolah-sekolah Tionghoa tersebut tanpa memperhatikan nasib para siswa. Padahal sebagai warga negara, mereka juga melakukan kewajiban sebagai warga negara.

Alhasil, tidak sedikit warga keturunan Tionghoa yang terpaksa angkat kaki dari Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang telah mencintai Indonesia harus meninggalkan Indonesia karena merasa hal-hak mereka sudah tidak diperhatikan.

Wu Da Ying memang memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan melanjutkan studi di luar negeri. Dengan kerja keras dan semangat ia berhasil menyelesaikan studi di bidang sains dengan cemerlang.

Dari apa yang dikisahkan oleh Wu Da Ying, ada beberapa hal yang dapat dicatat. Pertama, kerja keras dan perjuangan tanpa kenal lelah adalah kunci kesuksesan dalam hidup. Hal ini juga yang diwariskan oleh keluarga Wu Da Ying secara turun-temurun. 

Selain itu, adalah penting untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, dan membantu mereka yang memerlukan pertolongan, tanpa memandang etnis ataupun orientasi relijius orang lain***

1 komentar:

Martin Karakabu mengatakan...

Karya yang bagus dan menginspirasi. Mohon izin pak, resensi buku ini saya taruh di blog saya. apa boleh?