Kamis, 06 Desember 2007

Eksklusi Sosial Petani China




KEMAJUAN ekonomi China memang pesat dan mencengangkan. Tidak mengherankan jika di Asia,secara ekonomi, China bukan lagi anjing lucu, tetapi telah berubah menjadi serigala menggetarkan banyak negara.

Hal inilah yang acap menjadi inspirasi bagi sejumlah negara di Asia untuk menggenjot kemajuan ekonomi mereka untuk memperoleh pencapaian yang sama dengan negeri tirai bambu itu. Namun di balik kemajuan itu, banyak cerita memilukan terjadi.Hal ini terjadi terutama pada para petani.

Dalam buku ini dikisahkan bagaimana para petani di China mendapat tekanan yang luar biasa dari para pejabat lokal.Tekanan tersebut dilakukan dengan cara yang bahkan tidak berperikemanusiaan.

Akibatnya, para petani tersebut menghadapi penderitaan yang hebat. Salah satu bentuk tekanan yang dilakukan pejabat lokal adalah pemungutan pajak atas para petani dengan jumlah yang jauh di luar batas kemampuan. Pungutan pajak tersebut tidak lagi memandang kemampuan petani, para pejabat lokal hanya mau tahu para petani tersebut melunasi pajaknya sesegera mungkin.

Ironisnya, para pejabat itu menggunakan hasil pungutan pajak untuk kepentingan dan kekayaannya sendiri Akibat dari tekanan ini, sering kali terjadi pertikaian antara para petani dengan pejabatpejabat lokal. Tidak jarang pertikaian tersebut berujung pada tindak penyiksaan dan pembantaian.

Kejadian seperti di atas bukan hal baru di China. Salah satu kisah penyiksaan itu terjadi di desa Zhang, Provinsi Anhui. Kejadian ini bermula ketika Deputi Kepala di desa tersebut mulai bosan dan kian geram dengan para petani yang selalu mengadukan perbuatannya menyalahgunakan dana warga.

Ketika kekesalan sang Deputi Kepala memuncak,diajaknya petugas keamanan dan anakanaknya untuk mengunjungi salah seorang warga desa bernama Zhang Guiyo. Zhang Guiyo adalah warga desa yang sering menyarangkan tuduhan masalah keuangan desa Kepala Deputi. Namun kunjungan itu bukanlah kunjungan biasa, melainkan bertujuan untuk menganiaya Zhang Guiyo.
Menyikapi hal ini warga desa pun bereaksi.Mereka mengadukan perbuatan Deputi Kepala tersebut kepada Kepala Partai di tingkat desa.Hasilnya,aparat partai di tingkat kecamatan menginstruksikan audit umum yang menyangkut keuangan di seluruh desa. Hal ini tentu saja membuat Deputi Kepala meradang. Bersama anaknya ia kembali menyambangi rumah Zhang Guiyo.

Kericuhan kembali terjadi di rumah ini. Buntutnya, dalam hitungan menit, empat orang tewas di tangan Kepala Deputi dan komplotannya. Kejadian ini membuktikan bagaimana arogansi kekuasaan dan korupsi masih menjangkiti banyak pejabat lokal di China.

Hal seperti di atas terjadi di hampir seluruh wilayah pertanian di China. Tanah pertanian yang harusnya memberikan penghidupan bagi para petani akhirnya menjadi beban bagi mereka sendiri, terutama karena pajak. Hal semacam inilah yang kemudian mendorong para petani China untuk bergerak menuju kota dan menjadi ”migran kota”.

Jumlah migran kota ini sangat besar.Pada tahun 2005 saja di Shanghai terdapat 1, 25 juta migran dari Anhui. Belum lagi dari provinsi-provinsi lainnya. Di kota mereka melakukan pekerjaan yang justru ditampik oleh penduduk lokal.Namun karena kerja keras yang luar biasa, banyak dari migran ini yang berhasil menduduki jabatan manajerial dan membawahi pekerja-pekerja lokal.

Eksklusi Sosial
Sayangnya, nasib migran kota tidak seindah kedengarannya Ada beberapa masalah yang dikemukakan penulis buku ini. Salah satunya adalah eksklusi sosial yang dikenakan oleh pemerintah kota. Kendati pun para migran ini telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan ekonomi, namun pemerintah kota tidak akan pernah memberikan status permanen di kota.

Akibatnya, mereka tidak akan mendapatkan asuransi kesehatan, keuntungan perumahan yang diperoleh warga kota lain. Perlakukan diskriminatif ini tentu sangat merugikan para migran kota. Tampak di sini adanya sebuah garis pembatas yang jelas antara penduduk kota dan para migran kota.

Pembatasan ini juga sekaligus membatasi migran kota dalam soal status, kesempatan, pendapatan, populasi, dan pemberian izin kerja. Sayangnya wewenang pembatasan ini diserahkan kepada badan-badan keamanan umum. Konsekuensinya, migran kota diperlakukan sebagai penjahat yang potensial. Hal ini menciptakan kesenjangan antara penduduk lokal dengan kaum migran.

Tentu saja stabilitas sosial menjadi terancam. Masalah berikutnya adalah menurunnya jumlah sumber daya manusia di desa. Hal ini disebabkan migrasi masyarakat desa ke kota.Akibatnya, investasi di desa menjadi berkurang. Ekonomi di pedesaan pun akan terkena imbasnya.
Dari tahun 1985 hingga tahun 1994 misalnya, tercatat 300 miliar yuan tersedot dari desa ke kota. Ini artinya desa perlahan-lahan tengah kehilangan potensinya dan kemiskinan mulai membayang di ambang pintu. Solusi dari persoalan terakhir ini, menurut buku ini, adalah mengembalikan potensi para petani. Du Runsheng, salah satu pakar ekonomi yang pernah menduduki posisi penting di partai dan pemerintahan China berpendapat, penting untuk menciptakan sebuah sistem maupun lingkungan yang menguntungkan dan dapat memotivasi para petani.

Misalnya saja mengundang- undangkan hak penggunaan tanah untuk para petani, termasuk di dalamnya hak mengontrak, hak mengelola, hak memakai, hingga hak untuk menggunakannya sebagai jaminan (halaman 337). Buku yang pernah dilarang terbit di China ini menunjukkan bahwa di balik kemajuan China terdapat begitu banyak persoalan, mulai dari persoalan sosiologis, pembangunan sosial,hingga ekonomi.

Dari sini pembacanya bisa belajar bahwa pembangunan bukanlah hal yang mudah. Karena itulah, pembangunan menuntut kesungguhan berbagai pihak. Disain pembangunan pun tidak dapat diserahkan begitu saja pada teknokrat atau ekonom, tetapi partisipasi masyarakat itu sendiri. Pembangunan juga bukan melulu persoalan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri yang melaju pesat, tetapi juga pembangunan yang berorientasi pada manusia.(*)
Nigar Pandrianto
Dimuat di Harian Seputar Indonesia, 18 Nopember 2007

Rabu, 15 Agustus 2007

Menghadirkan Realitas Ke Ruang Kontemplatif




Judul : Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : 258 Halaman
Terbit : Juni, 2007

Siapa tidak mengenal Emha Ainun Nadjib. Lelaki ini terbilang produktif dalam menulis. Tulisannya ada yang berupa puisi, cerita pendek, kolom, hingga esai. Lewat tulisan-tulisan itu berbagai persoalan dibedahnya, mulai dari soal politik, sosial kemasyarakatan, sastra, kebudayaan, kebangsaan, sampai agama. Itu pula yang dilakukannya lewat buku berjudul Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki ini.


Di dalam kumpulan esai ini Emha mengungkapkan berbagai persoalan yang ada di dalam masyarakat. Ia yakin begitu banyak masalah dalam masyarakat yang nyata-nyata menuntut penyelesaian. Dalam pandangannya, jika persoalan itu tidak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, keterpurukan dan krisis bangsa Indonesia tidak akan pernah berakhir.
Persoalan-persoalan itu bagi Emha bukan sekadar sebuah gejala, tetapi telah menjadi potret buram yang terjadi dalam waktu lama. Buntutnya, diperlukan perubahan yang radikal agar bangsa Indonesia bisa lolos dari krisis. Di sinilah titik kritik Emha yang tertuang dalam tulisannya.


Dalam kumpulan esai ini, Emha tampak mencoba menyodorkan realitas ke depan pembacanya. Ia mencoba menghadirkan kenyataan tersebut langsung ke pusat kesadaran pembacanya. Tidak mengherankan jika pembaca sesekali akan berhenti membaca untuk memberikan ruang kontemplasi, dan merenungkan apa yang sedang dibacanya. Hal ini dilakukan misalnya dengan melontarkan pertanyaan-pertanyan retorik. Di sinilah salah satu kelebihan esai-esai yang ditulis oleh Emha.


Di samping itu, Emha kerap menggunakan idiom-idom yang diambil dari Al Quran sehingga nafas Islami dari sejumah esainya dapat dirasakan. Menariknya, meskipun begitu, esai-esai tersebut tetap kontekstual dengan keindonesiaan dan tidak menjadi tulisan-tulisan agama, walaupun nilai-nilai religius tetap mengalir di dalamnya. Inilah yang membuat tulisan-tulisan Emha tetap dapat “dinikmati” oleh berbagai kalangan, bahkan lintas pemeluk agama.

Ke akar masalah
Esai-esai Emha tidak bergegas memberikan sebuah solusi untuk problem-problem yang tengah dibahas. Tetapi justru ia mengajak pembaca untuk secara perlahan menyelami akar masalah dari persoalan yang ada. Di sini pembaca seakan diajak untuk melihat setiap permasalah secara komprehensif, mengakar, terbuka terhadap berbagai kemungkinan, bersikap tidak asal tuduh, dan selalu mempertimbangkan dimensi-dimensi yang mengitarinya (pluridimensional).

Hal di atas tampak misalnya ketika Emha berbicara soal terorisme yang memunculkan stereotip di kalangan atau kelompok masyarakat tertentu. Dalam tulisan ini diceritakan bagaimana Emha harus menjawab pertanyaan yang diajukan seputar terorisme dan pesantren. Menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan pesantren, dengan nada menyejukkan Emha mengungkapkan bahwa orang-orang dari pesantren adalah kaum yang termarjinalkan. Lulusan pesantren sebagian besar menjadi kaum yang terlempar dari arus jaman. Lalu, yang tidak diperhatikan oleh banyak kalangan, keterpinggiran tersebut disertai dendam di punggung mereka dan sewaktu-waktu bisa berubah menjadi ledakan api.


Harus diakui memang, tulisan-tulisan lelaki yang akrab dipanggil Cak Nun ini bukanlah tulisan yang dapat seketika dipahami. Namun diperlukan kearifan, kecermatan serta ketelitian dalam membacanya. Maklum saja, tulisan-tulisannya bukanlah berita sensasional tabloid hiburan yang dapat dinikmati secara instan.

Menyerahkan kepada pembaca
Emha sendiri di dalam esai-esainya tidak mencoba menggurui. Ia juga tidak tiba-tiba menjadi orang yang “maha tahu” dan mempunyai kapasitas untuk memberikan nilai pada sebuah keadaan, melainkan mencoba membahasakan realitas ke hadapan pembaca. Mengenai penilaian, hal itu lagi-lagi diserahkan kepada pembaca.


Di dalam esai-esainya, Emha sering mengajak pembaca melihat realitas dengan cara tidak langsung. Ia seringkali masuk ke dalam persoalan lewat peristiwa tertentu atau bahkan cerita tertentu. Dari situ spektrumnya meluas dan menyusup ke hal-hal yang mendasar dan substansial.


Ketika Emha memperbincangkan soal goyang Inul Daratista misalnya, ia tidak hanya berhenti pada kontroversi goyang yang sempat menghebohkan itu, tetapi juga ia ingin menunjukkan ketidakkonsistenan masyarakat dalam menghadapi sebuah gejala. Hal ini, menurut Emha, adalah disebabkan boleh latar belakang budaya dan infrastruktur alam pikiran masyrakat itu sendiri. Misalnya saja, melarang habis-habisan orang untuk korupsi, tetapi jika dirinya kecipratan hasilnya, korupsi seakan-akan menjadi legal (Hal. 16).

Sebagai murid
Hal yang sama juga tampak saat Emha berbicara soal bencana Tsunami yang terjadi di tahun 2004 di Aceh. Di sini ia tidak melulu berbicara mengenai gempa secara teknis, tetapi ia justru menelaah peristiwa tersebut dari sisi spritual yang reflektif dan kontemplatif.


Hal lain yang menarik dari kumpulan tulisan ini, Emha mengingatkan bahwa tulisannya selalu bertolak pada tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa, bukan pada “karir” kepenulisannya. Tidak mengherankan jika kemudian Emha acap kali memosisikan diri sebagai bagian dalam kehidupan masyarakat yang tengah dikritisinya. Malah ia menempatkan diri sebagai “murid” dari masyarakat atau umat. Keegaliteran inilah yang membuat Emha selalu dapat diterima di berbagai lapisan dan golongan masyarakat.


Dalam buku yang tidak diberi pengantar, baik dari editor, penerbit maupun penulisnya sendiri ini, esai-esai Emha dikelompokkan menjadi enam bagian besar yaitu Podium Husni yang banyak mengupas persoalan kebudayaan, Sekul dan Uler yang menyoal ideologi negara dan kepemimpinan, Santri Teror yang membahas masalah santri dan alam pikiran para santri, Generasi Kempong yang mengajak pembaca untuk melihat berbagai kekacauan sikap budaya dan kemunafikan, “Wong Cilik” dan Dendam Rindu Jakarta yang berbicara mengenai kaum marjinal, dan Gunung Jangan Pula Meletus yang mencoba memaknai bencana yang melanda Indonesia.


Sayangnya, tidak semua esai dalam buku ini menyebutkan sumber tulisannya. Akibatnya, pembaca tidak pernah tahu konteks sesungguhnya dari tulisan-tulisan tersebut. Akan lebih membantu sebenarnya jika pembaca tahu sumber tulisan tersebut, misalnya, apakah esai tersebut pernah dimuat di sebuah harian, apakah esai tersebut merupakan makalah dalam sebuah seminar, atau memang tulisan-tulisan yang belum sempat diterbitkan. Sumber karangan, waktu ketika esai itu dibuat, dan konteks persoalan ketika esai itu dibuat, tentunya akan membantu pembaca memahami gagasan-gagsan Emha dan maksud dari tulisan-tulisannya.***


(Dimuat di Koran SINDO, 8 Juli 2007)

Mematahkan Pengultusan Mao Tse-tung



Judul : Mao, Kisah-kisah yang Tak Diketahui
Penulis : Jung Chang dan Jon Halliday
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 958 Halaman
Terbit : Juli, 2007

Mao Tse-tung adalah tokoh Partai Komunis China yang sangat berpengaruh dan kontroversial. Meskipun begitu para penganut ajarannya masih ada hingga kini. Malah mereka tidak segan mengatakan bahwa Mao masih hidup di hati mereka. Pertanyaannya, benarkah ia seseorang yang layak dikultuskan? Pertanyaan itulah yang akan dijawab dalam buku Mao, Kisah-kisah yang Tak Diketahui ini.


Buku ini secara keseluruhan ingin membeberkan siapa diri Mao Tse-tung yang sebenarnya, mulai dari kepribadian, kebiasaan, kecenderungan-kecenderungan, hingga orientasi ideologisnya. Bahkan kiprah, sepak terjang dan muslihatnya di dunia politik pun dikupas habis.
Dengan berbagai arsip, dokumen, buku dan catatan-catatan lain yang dikumpulkan dari seluruh penjuru dunia, penulis buku ini, Jung Chang bersama Jon Halliday, melakukan semacam rekonstruksi kesejarahan Mao. Keduanya berusaha untuk memperlihatkan Mao dari berbagai sisi secara objektif.


Untuk melengkapi data yang ada, penulis buku ini bahkan melakukan sejumlah wawancara dengan narasumber yang dianggap relevan dengan kisah Mao. Mereka adalah kerabat, teman-teman dekat, sejawat, tim medis, penerjemah, sekretaris, negarawan, pengawal pejabat, sejarawan dan saksi-saksi kunci dalam peristiwa bersejarah yang berkait dengan Mao. Para narasumber tersebut tidak hanya berasal dari China, tetapi dari seluruh dunia.

Hasilnya adalah biografi Mao yang sangat mendalam, lengkap, spektakuler dan sangat mengagumkan. Boleh dikatakan, dari sejumlah buku mengenai Mao yang pernah ada, buku ini adalah biografi Mao yang paling kaya dan tajam. Ketajaman dan kekayaan buku ini jauh melebihi buku-buku biografi Mao yang pernah ditulis, terutama biografi yang ditulis oleh orang-orang yang sempat berada di dekatnya, seperti dokter maupun pengawal pribadi.


Di bagian awal buku ini kompleksitas psikologis, karakter, pandangan-pandangan, serta sikap-sikap umum Mao yang hipokrit, otoriter dan kejam sudah dimulai diungkapkan, misalnya saja Mao, dari catatan pribadinya, mengaku bahwa ia menyukai pergolakan dan penghancuran. Ia bahkan akan merasakan semacam ekstase ketika melihat atau mengalami situasi seperti itu.
Lebih lanjut, seperti dikutipkan oleh penulis buku ini, Mao pernah mengungkapkan bahwa pendekatan untuk mengubah China adalah dengan penghancuran. Menurutnya, negara harus dihancurkan lalu dibentuk kembali. Penghancuran tersebut berlaku juga bagi negara, bangsa dan umat manusia, dan orang seperti Mao mendambakan penghancuran alam semesta, karena ketika alam semesta yang lama dihancurkan, alam semesta baru akan terbentuk.


Pandangan tersebut bukan hanya letupan emosi sesaat. Buktinya, di kemudian hari Mao bertahan dengan filosofi yang sama. Salah satu penerapannya adalah ketika Mao melakukan gerakan Lompatan ke Depan dan Revolusi Kebudayaan. Dalam gerakan Lompatan ke Depan, Mao terang-terang siap mengorbankan 300 juta rakyat China demi kemenangan revolusi dunia. Hal ini memang terbukti di lapangan. Proyek-proyek Mao yang kelewat percaya diri dan tidak rasional justru membawa bencana dan kesengsaraan bagi rakyat China.


Salah satu proyek tidak masuk akal Mao adalah pembuatan tanur rakyat. Perintah ini disusul dengan kewajiban rakyat untuk membuat tungku-tungku itu tetap menyala dan menghasilkan baja. Akibatnya barang-barang logam yang dimiliki penduduk, termasuk alat rumah tangga dan pertanian dilebur dan dilelehkan. Untuk keperluan ini banyak rumah dirobohkan agar kayu-kayunya dapat digunakan sebagai bahan bakar tanur-tanur tersebut. Namun demikian proyek ini gagal dan telah membuat rakyat sangat terpuruk.


Sementara itu dalam masa Revolusi Kebudayaan yang dimulai pada tahun 1966, Mao secara terang-terangan menggusur dan menghancurkan sesuatu yang dianggap berasal dari kebudayaan lama. Hasilnya sangat mengerikan, warisan sejarah China yang bernilai tinggi dan merupakan manisfestasi peradaban bangsa yang paling nyata dimusnahkan atas perintah Mao, mulai dari bangunan-bangunan kuno, monumen-monumen bersejarah, hingga perpustakaan. Kemudian, papan-papan nama jalan dan toko diganti.


Lebih jauh lagi Mao memerintahkan Pengawal Merah yang terdiri dari anak-anak muda untuk melakukan teror dan prakatik penyiksaan terhadap mereka yang dituduh memiliki hubungan dengan budaya lama, seperti penulis, pelukis, hingga pemain opera. Mereka disiksa dengan cara ditendang dan dipukul dengan tongkat berpaku. Para Pengawal Merah digambarkan memakai seragam khusus, yaitu baju hijau, ikat lengan berwarna merah di lengan kiri, dan Buku Merah Kecil (Little Red Book) di tangan kanan, ketika melakukan hal tersebut. Buku Merah Kecil adalah buku yang berisi kutipan ajaran-ajaran Mao.


Teror yang dilancarkan di seluruh penjuru negeri ini memakan jutaan korban yang tidak bersalah. Mao, lewat “mesin pembunuh” Pengawal Merah berhasil menciptakan ketakutan sampai rakyat benar-benar tunduk tanpa daya terhadap Mao. Selanjutnya Mao seperti memaksakan jalan terhadap pengultusan dirinya sendiri, salah satunya lewat jargon-jargon dan slogan-slogan yang berorientasi kepada dirinya.


Selain itu, dalam buku ini kekejaman-kejaman Mao berhasil digambarkan secara detil. Mereka yang membacanya akan menemukan suasana mencekam dan kengerian di dalamnya. Kejahatan, kebrutalan, penginjak-injakan harkat manusia, dan kebejatan moral Mao yang dibeberkan di buku ini setidaknya akan menggiring pembaca untuk menilai bahwa pemuja Stalin ini bukanlah pemimpin besar, tetapi seorang penjahat kemanusiaan. Itu sebabnya agak mengherankan jika masih ada yang menganggap bahwa Mao adalah pemimpin besar.


Sebagai sebuah biografi, buku ini sangat mudah diikuti, karena setiap babnya merupakan periodesasi usia Mao yang dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa khusus dalam periode tersebut. Misalnya saja pada bab Menjadi Orang Komunis, dituliskan periode ini terjadi pada tahun 1920-1925, di usia 17-26, lalu Bersaing dengan Stalin dituliskan terjadi pada tahun 1947-1949, pada usia 53-55. Cara seperti ini akan memudahkan pembaca untuk mengetahui perkembangan pemikiran sampai perubahan-perubahan orientasi politis dari waktu ke waktu. Sedangkan bagi para peneliti sejarah, priodesasi dalam buku ini akan lebih memudahkan penelusuran setiap peristiwa sejarah, terutama jika dikaitkan dengan peritiwa-peristiwa lain dalam periode yang sama.


Jung Chang--yang juga pernah mengalami tekanan yang berat di masa Mao berkuasa--dan Jon Halliday telah berhasil melakukan penelusuran sejarah Mao secara menakjubkan. Semua bahan yang dikumpulkan diolah dan disusun kembali menjadi sebuah historiografi. Cara penyusunan dan penyampaian yang memikat, mendorong pembaca untuk senantiasa mengikuti peristiwa demi peristiwa, yang acap kali menyodorkan fakta-fakta yang mengejutkan, hingga akhir.
Lebih penting lagi, buku ini bukan sekadar usaha penulisnya untuk membuat sebuah biografi atau penulisan sejarah, tetapi untuk mematahkan dan menghancurkan pengultusan Mao Tse-tung. Penulis seperti ingin membuka mata dunia bahwa Mao telah mencatatkan sejarah kelam kemanusiaan di China.****

Catatan-catatan Kritis Wartawan Tiga Zaman




Judul: Semua Berawal dengan Keteladanan, Catatan Kritis Rosihan Anwar
Penulis: Rosihan Anwar
Tebal: xx + 515 halaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Terbit: Mei 2007

Setiap penulis kolom memiliki gaya penulisan yang khas. Ada penulis yang menyajikan tulisan secara “berat”, sebut saja seperti Goenawan Mohammad, ada yang bergaya ceplas-ceplos seperti Harry Roesli, ada juga yang bergaya segar dan jenaka seperti Mahbub Djunaidi.
Setiap gaya tulisan boleh-boleh saja beda. Namun jika diamati, ada kesamaan di antara penulis-penulis tersebut. Kesamaan itu adalah, semua penulis tersebut sangat kaya dengan pengalaman, memiliki pengetahuan yang luas, serta kejelian dalam menangkap persoalan yang ada di sekitarnya.


Begitu pula dengan Rosihan Anwar. Ia adalah seorang penulis yang memiliki ciri-ciri seperti di atas. Rosihan Anwar adalah penulis yang kaya dengan berbagai pengetahuan, mulai dari pengetahuan sejarah, sastra, kebudayaan, filsafat, hingga politik. Seperti diungkapkan oleh Julius Pour dalam pengantar buku ini, semua pengetahuan itu membuat Rosihan Anwar dapat berpikir secara runtut dan memakai bahasa yang jernih.


Ditambah lagi, profesinya sebagai wartawan memungkinkannya mempunyai banyak kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang dari berbagai kalangan, mulai dari rakyat kecil, pejabat, tokoh-tokoh berpengaruh, sampai pesohor. Di sisi lain ia juga berkesempatan menjadi saksi langsung berbagai peristiwa penting.


Hal-hal itulah yang membuat tulisan-tulisan Rosihan Anwar menjadi lebih kaya, penuh warna, dan tampak penguasannya terhadap kompleksitas persoalan dan kemajemukan setiap permasalahan. Tidak heran jika pembaca merasa betah berlama-lama membaca tulisannya. Padahal bukan tidak mungkin persoalan yang disampaikan dalam tulisannya adalah masalah yang cukup serius. Begitu pula tulisan-tulisannya dalam buku Semua Berawal dengan Keteladanan.


Semua Berawal dengan Keteladanan adalah kumpulan kolom Rosihan Anwar yang muncul di tabloid Cek & Ricek. Nama kolom tersebut adalah Halo Selebritis. Seperti lazimnya tabloid hiburan, Cek & Ricek pun berisi berbagai berita seputar selebritis dan dunia hiburan. Namun begitu, tabloid ini masih menyisakan ruang untuk diisi oleh tulisan-tulisan yang memberikan pengayaan kepada pembacanya, itulah kolom Rosihan Anwar. Tidak mengherankan jika kolom ini adalah salah satu tulisan yang selalu ditunggu pembacanya setiap minggu.


Membaca buku ini yang diterbitkan untuk memperingati 85 tahun Rosihan Anwar dan 60 tahun usia perkawinannya dengan Siti Zuraida Sanawi ini, kita dapat melihat bagaimana wartawan tiga jaman itu memandang berbagai persoalan yang ada di masyarakat, mulai dari persoalan kebudayaan, sosial, pers, politik sampai ekonomi. Cara pandang Rosihan Anwar itu sangat beragam, ia dapat saja mengacungkan jempol, geleng-geleng kepala, mengritik pedas, bersikap sinis atau pun mengejek. Kesemuanya disampaikan secara terbuka atau blak-blakan.
Ketika Polri berhasil menangkap Imam Samudra dan Amrozi tersangka peristiwa pemboman di Bali misalnya, Rosihan Anwar secara terbuka memuji prestasi tersebut. Namun, ketika ia menilai para selebriti, entah pelawak ataupun penyanyi rock, yang tiba-tiba di bulan Ramadhan sering muncul membawakan acara agama di malam atau subuh hari, ia seperti menyimpan tanda tanya. Bahkan Rosihan Anwar mempertanyakan, apakah kalau sudah menjadi terkenal seseorang bisa begitu saja dipakai dalam acara dakwah? (hal. 209).


Menariknya, Rosihan pun tidak pernah pandang bulu dalam melancarkan kritik. Pejabat, birokrat atau pun artis, bisa saja dikritiknya terang-terang. Bahkan presiden pun tidak lepas dari sasaran kritiknya, misalnya saja secara terang-terangan ia mengatakan bahwa dalam hal KKN, Gus Dur sudah sami mawon dengan mantan Presiden Soeharto (hal. 35). Begitu pula ketika ia berkali-kali mengritik Presiden Megawati.


Kolom-kolom Rosihan Anwar pun menjadi lebih menarik untuk dibaca karena banyak sekali “sejarah kecil” yang disisipkan dalam kolom-kolom ini. Meskipun dikatakan “sejarah kecil” namun hal tersebut justru memperkaya tulisan sejarah yang ada. Misalnya dalam tulisan yang berjudul Dewi Rais Punya Cerita, Pertanyaan Bisa Bikin Ibu Mega Sebel, Rosihan menulis bagaimana Presiden Soekarno marah kepada Dewi Rais, istri Letjen (Purn.) Rais Rabin. Ketika itu Dewi Rais dan pengurus PWI yang diketuai Mahbub Djunaidi (almarhum) berkunjung ke Istana Bogor. Sesampainya di sana Presiden Soekarno menyalami semua tamu yang datang. Namun yang menggelikan ia ngambek dan tidak mau bersalaman dengan Dewi Rais.
Tidak hanya itu, Presiden Soekarno komplain kepada Kolonel Hidayat (kala itu masih berpangkat kolonel), ayah Dewi Rais, yang menjabat Panglima Tinggi TNI di Sumatera pada masa clash ke dua dan PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia). Kala itu, seperti dikutip Rosihan Anwar, Presiden Soekarno berkata “ Zeg, suruh jouw dochter itu jangan tulis yang bodoh-bodoh.”


Kemarahan Soekarno ternyata dipicu oleh tulisan Dewi Rais dalam surat kabar Api Pancasila yang mengritik ucapan Presiden Soekarno seputar Gestapu. Waktu itu Soekarno mengatakan bahwa peristiwa Gestapu merupakan druppeltje in de ocean (sebuah riak kecil dalam lautan samudera).


“Sejarah kecil” seperti itulah yang sebenarnya dapat membuat sejarah lebih hidup dan tidak kering, sehingga lebih menarik minat orang untuk membaca. Oleh karena itulah Rosihan juga pernah menerbitkan buku Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia (2004).
Pendek kata kolom-kolom Rosihan Anwar tidak hanya sebuah komentar kritis terhadap persoalan yang terjadi setiap waktu, tetapi juga sebuah catatan kritis yang diracik sedemikian rupa sehingga “sedap” untuk dinikmati.***

Puisi-puisi dari Ruang Kontemplatif




Judul: Hujan Meminang Badai
Penulis: Tri Astoto Kodarie
Tebal: xxvii + 122 halaman
Penerbit: Akar Indonesia, Yogyakarta,
Terbit: Maret 2007

Sebuah puisi lahir dari hasil perenungan yang mendalam seorang penyair. Di sini terjadi semacam interkasi antara si penyair dengan dunia di sekitarnya. Hasilnya dapat berupa kegelisahan maupun pertanyaan-pertanyaan kontemplatif. Begitu kesan yang didapat ketika membaca kumpulan puisi Tri Astoto Kodarie, Hujan Meminang Badai.


Sejumlah puisi dalam antologi ini memperlihatkan bagaimana penyairnya melakukan perenungan dalam kesunyian. Jika syair-syair dalam antologi ini dibaca dengan seksama, kesunyian itu jelas tertangkap lewat ungkapan-ungkapan yang digunakan oleh penyairnya. Lihat saja kutipan puisi Di Pelataran Mesjid Demak ,….akhirnya kutemukan juga/ muara kelelahan ini/ keheningan yang menggelayut/ di permukaan embun dinihari.
Penggunaan “keheningan yang menggelayut” misalnya, memperlihatkan bagaimana sang penyair melakukan penjarakan dari hiruk-pikuk dunia, hadir secara total di ruang hening, dan mulai berdialog dengan dirinya sendiri.


Menariknya, dialog yang terjadi antara penyair dengan dirinya sendiri tidak terperosok dalam keasyikan dengan “dunia batin”-nya sendiri, tetapi justru menyajikannya lewat representasi lain sehingga syair lebih kaya dengan metafor, dan tak jarang menambah daya magis maupun kekuatan dari sebuah puisi. Kata-kata yang dimaksud misalnya “senjaMu”, “tanah basah”, “daun-daun gugur”, “ilalang pantai”, “sayap-sayap air”, “bau bunga-bunga rumput”, ataupun “burung-burung hitam yang menukik”.


Kesunyian, keheningan, dan sepi, dari puisi Trie Astoto Kodarie juga tampak pada puisi Surat-surat yang Tertulis Setelah Senja, Yang Ada Hanyalah Suara Malam, Ziarah 2, Sajak Gelombang, atau Meneteslah Air Mata Sunyi.


Di samping itu, perenungan Trie Astoto Kodarie menyeret kita pada titik ekstrem, yakni kematian dan perjumpaan dengan Tuhan. Ini bukan sikap eskapis dalam menghadapi persoalan-persoalan kehidupan, tetapi lebih kepada upaya membawa pembaca kepada suatu titik perenungan diri untuk menjawab posisi eksitensi kemanusiannya. Dalam sajak Mengantar Jenazah di Saat Hujan Tengah Hari misalnya, Tri Astoto menulis, ….saat sukma-sukma mereke bersimpuh/ jasad tergolek ke liang tanah basah/penuh misteri antara dua alam/ esok pun kita bakal melewati jajaran pohon kamboja/ yang dingin dan kaku/ bersama sahabat-sahabat setia yang akan mengantarnya//.


Puisi ini dapat dikatakan “menghentak”, sebab ia mengajak pembaca untuk ikut merasakan aroma kematian itu, memosisikan diri pembaca sebagai “si mati”, dan menghadirkan suasana magis kematian. Ada semacam usaha untuk melontarkan pembaca dari ruang dimana ia berada, menyuguhkan alienasi, dan menyeret ke “zona tak nyaman”. Dengan begitu renungan-renungan yang lebih dalam lagi mengenai keberadaan diri dapat lebih dicapai.


Sementara itu perjumpaan dengan Tuhan, saat eksistensi manusia dan keangkuhannya seketika meluluh, terlihat dalam puisi Di Pelataran Mesjid Demak. Di dalam puisi ini terlihat bagaimana manusia menjadi tidak ada artinya di hadapan kuasa Tuhan. Itu sebabnya hanya di hadapanNya saja manusia bisa berkeluh kesah, mengadukan nasib dan persoalan hidup. Di sinilah titik perhentian ekstrem manusia. Tengok saja penggalan dari puisi ini, …biarkan di sini aku mengeja ayat-ayatmu/ suaraku telah parau untuk setia memanggilMu/ air mataku telah kering/ menumpahkan seluruh riwayat dan perjalanan/.


Perenungan-perenungan Tri Astoto bergerak sedemikian rupa dengan sejumlah titik pencapaian, seperti ketakberdayaan dalam menghadapi sesuatu, dan kegelisahan ketika telah terjadi sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, sebutlah ketika ia melihat guru yang bertahan dengan idealisme, atau nelayan yang juga tidak kuasa mengubah nasib meskipun telah bekerja keras.


Di sini Tri Astoto tidak melakukan gugatan, protes, atau menuntut perubahan secara terbuka, tetapi justru mengajak pembaca untuk merenungkan realitas yang dicatatakan dalam puisi-puisinya.Tengok saja puisi sajak Anak-anak yang Tidur Gelisah. Dalam puisi ini Tri Astoto menulis, ….setetes embun malam di kaca jendela/ menyaksikan wajah-wajah yang sarat beban/ wajah anak-anak merdeka yang tak merdeka/ wajah-wajah anak zaman/ yang diterlantarkan zaman/ mengingatnya, air mataku jatuh tak tertahan//.


Pada puisi tersebut jelas bagaimana Trie Astoto bereaksi atas apa yang telah ia cermati dari keadaan di lingkungan sekitarnya, yakni kepahitan-kepahitan hidup yang dialami oleh orang-orang di sekitarnya. Reaksi serupa sangat kental dalam puisi-puisi Siang Namaku, Catatan Harian Seorang Guru, Tembang Nelayan Dini Hari, dan Sajak dari Perkampungan Nelayan.
Menyimak 115 sajak Tria Astoto Kodarie yang ditulis pada rentang 27 tahun ini, dapat dilihat bagaimana ia memiliki kedekatan dengan alam, terutama laut atau danau. Tampak ada semacam ekstase dan ketersentuhan pengalaman puitik ketika ia mengamati--ataupun melakukan penyatuan diri--dengan alam.


Dari proses inilah lahir syair-syair yang sarat metafora. Simak saja puisi-puisi berjudul Biarkan Layar Berkibar, Perahu, Mata Laut, Kapal yang Merapat di Dermaga, Selat Makasar, atau Suatu Malam di Atas Perahu.


Dalam puisi Suatu Malam di Stas Perahu contohnya, Tri Astoto menulis ….biarkan aku menyusuri pantai/ dengan perahu dan sisa badai/ menanti isyarat angin dan suara/ yang setia mengusap kening jiwa//. Sementara itu, dalam puisi Selat Makassar ia menulis,..kuhanyutkan rindu di selat ini/ mendung yang letih menambah perih/ tak ada lagi tembang meniti buih/ hanya kerlip lampu para nelayan/ dipermainkan ombak dan cuaca//.

Secara garis garis besar, puisi-puisi Tri Astoto Kodarie membawa pembaca pada ruang interpretasi yang lebar. Banyak makna yang bisa digali dari setiap teks yang ada. Dengan begitu segala perenungan, hasil refleksi, dan pergulatan batin yang ada tidak berdiam sampai satu titik saja, tetapi bergerak dan mengembara lebih bebas di dalam ruang pemaknaan pembacanya.****