Senin, 17 Maret 2014

Memahami Dunia yang Belum Selesai

dok. komuitasbambu.com
Judul : Berpijak Pada Filsafat (3 Jilid)
Editor: Toety Heraty Noerhadi
Penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta, 2013
Harga: Rp. 200.000,-

Begitu banyak persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Setiap persoalan tampak kompleks, dan tidak mudah untuk mencari ujung pangkalnya. Semua itu saling tarik-menarik, saling terkoneksi, dan tidak ada yang berdiri sendiri.
Perlu kesabaran untuk dapat melihat persoalan secara detil, komprehensif, dan metodologis. Dengan begitu realitas tampak lebih jelas, lebih benar, sehingga lebih mudah untuk menyelesaikan persoalan yang ada.
Rasanya, filsafat adalah salah satu jalan keluar untuk mencapai hal ini. Filsafat memang bukanlah ilmu praktis yang dengannya kita mudah memecahkan persoalan yang ada. Namun filsafat akan membawa kita untuk “lebih tertib” dalam memandang persoalan. Artinya persoalan dilihat secara logis, dengan mempertimbangkan berbagai premis ataupun asumsi-asumsi secara tepat.
Itulah yang ingin disampaikan oleh buku ini. Buku yang merupakan kumpulan sinopsis disertasi pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini, adalah sebuah upaya mengajak masyarakat, terutama masyarakat akademis, untuk berpikir secara logis dan kritis. Tanpa daya kritis, realitas yang diamati tidak akan muncul sebagaimana adanya. Sebaliknya, realitas yang muncul adalah palsu, sehingga jika ditawarkan penyelesaian,  itu pun palsu.
Lewat buku ini, pembaca diajak untuk lebih tajam melihat segala hal. Penilaian semena-mena tanpa dasar yang kuat hanya menunjukkan kedangkalan berpikir. Sedangkan realitas di sekitar kita—seperti halnya manusia—sesungguhnya merupakan realitas yang belum selesai.
Berpijak Pada Filsafat sebagai sebuah usaha rekam jejak perjalanan  Program Doktoral Filsafat FIB Universitas Indonesia, boleh saja diacungi jempol. Sebuah perguruan tinggi sudah selayaknya menerbitkan hasil-hasil riset mereka ke publik. Perguruan tinggi harus memiliki kedekatan dengan masyarakat.
Kelebihan buku ini adalah tema yang sangat bervariasi, mulai dari Bioetika, Epistemologis, Filsafat Politik, Filsafat Antropologi, Filsafat Sosial, Estetika. Hal ini menunjukkan betapa luas sebenarnya cakupan kajian filsafat. Ia menyentuh berbagai ilmu yang berkaitan dengan manusia.
Dalam bidang Bioetika misalnya, filsafat mencoba untuk mengkaji dimensi etis penelitian Human embryonic stem cell. Dalam penelitian ini dilakukan penghancuran terhadap embryo untuk tujuan-tujuan terapi penyakit degeneratif. Pertanyaannya, apakah penghancuran embryo tersebut etis? Bukankah dalam perspektif filsafat embrio tidak memiliki status persona.
Membaca  Berpijak Pada Filsafat menyadarkan pembaca bahwa dunia adalah sebuah proses. Karenanya tidak ada yang final dan tidak ada yang mutlak. Semua berubah. Termasuk kita.***

Jumat, 01 November 2013

Mencari Titik Temu Agama dan Kemiskinan



















Judul:  Rakyat Kecil, Islam dan Politik
Penulis: Martin van Bruinessen
Penerbit:  Gading, Yogyakarta, 2013

Tebal: xvii + 482 Halaman


Kemiskinan di wilayah urban telah lama menjadi masalah, sebab dari sinilah persoalan-persoalan yang lebih luas meluber. Kriminalitas, pengangguran, hingga konflik sosial adalah sebagian dari daftar panjang luberan masalah tersebut.
Martin van Bruinssen, peneliti asal Belanda, secara cermat mencatat masalah tersebut dalam sebuah penelitian. Penelitian tersebut dilakukan di sebuah kawasan kumuh di kota Bandung pada pertengahan tahun 1980-1990-an.
Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa kemiskinan di wilayah  tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor. Faktor tersebut antara lain adalah kedatangan ataupun perpindahan penduduk ke wilayah tersebut.
Perpindahan tersebut diikuti dengan sempitnya lapangan pekerjaan. Alhasil, penduduk terpaksa menjalankan pekerjaan informal seperti membuka warung, berdagang makanan kecil, atau bekerja sebagai buruh rumahan dengan mengupas bawang.
Sayangnya usaha semacam itu selalu diikuti oleh penduduk lainnya. Persaingan tidak dapat dihindari. Persaiangan yang tinggi membuat  usaha tersebut tidak dapat bertahan lama. Mereka pun kembali bangkrut dan harus bersusah payah membangun usaha lain. Padahal untuk itu mereka harus menyiapkan modal yang banyak.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa rendahnya kreativitas dan kurangnya kemampuan inovasi membuat kompetisi sulit diatasi dengan baik.  Ada penduduk yang mencoba bertahan, ada juga yang menyerah begitu saja. Mereka yang bertahan harus menjalaninya dengan berat.
Namun kemudian Bruinessen mempertanyakan posisi lembaga keagamaan.  Dalam hal ini ia menyandingkan posisi lembaga keagamaan dengan fenomena kemiskinan itu sendiri. Baginya, segala dinamikan lembaga keagamaan yang terjadi di Indonesia belum dapat menyentuh persoalan mendasar masyarakat, yakni kemiskinan.
Hal yang terjadi, banyak lembaga keagamaan yang justru terlalu sibuk dengan urusan kekuasaan dan politik. Buku ini memperlihatkan bagaimana NU (Nahdlatul  Ulama) yang semula merupakan lembaga keagamaan, mengubah dirinya menjadi lembaga politik yang kemudian terbukti banyak memberikan ruang yang menguntungkan bagi anggotanya (Hal. 138).
Namun kemudian ada dorongan internal agar NU untuk menarik diri dari kegiatan politik. Dorongan ini dipicu oleh kenyataan bahwa organisasi tersebut semakin kurang memberikan perhatian kepada dakwah dan pembinaan umat. Hasilnya, pada tahun 1983, NU kembali  ke Khittah 1926 (hal. 1943).
Hal menarik lain yang disinggung dalam buku oleh Bruinessen adalah dinamika lembaga maupun kelompok-kelompok Islam yang ada dalam masyarakat.  Tampaknya memang tak mudah melepaskan Islam dari hiruk pikuk masalah sosial dan politik. Islam selalu menjadi elemen penting di dalamnya.
Pada analisa Bruinessen, itu alasannya mengapa rezim berkuasa selalu melibatkan lembaga-lembaga Isalam untuk berbaga proyek ataupun programnya. Bagi pemerintah Islam bukan sekadar agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia, melainkan juga potensi untuk melakukan sebuah gerakan.

Rabu, 28 November 2012

--

Judul: Sarongge
Penulis: Tosca Santoso
Penerbit: Dian Rakyat, 2012
Tebal: 370 Halaman
Harga: 95.000

Selasa, 23 Oktober 2012

Kisah Jurnalis di Balik Berita


Judul: Jurnalis Berkisah
Penulis: Yus Aryanto
Penerbit: Metagraf
Tahun: 2012
Tebal:  227 halaman
Harga: Rp. 47.000


Wartawan adalah profesi yang memiliki risiko tinggi. Intimidasi serta ancaman kekerasan adalah hal yang mengintipnya setiap saat. Hanya idealisme dan keterpanggilan yang membuat seorang juru berita bertahan dengan profesi itu.
Menjabarkan semua itu dalam sebuah manuskrip yang teoritis hanya akan menghasilkan sebuah pemahaman yang kering. Berbeda jika hal itu dideskripsikan ataupun dituturkan si juru berita.
Itulah yang membuat buku ini menarik disimak sebagai sebuah teks yang menggambarkan mozaik kecil jagat jurnalistik, khususnya di Indonesia. Dari sini pembaca tidak hanya mencerap ikhwal kerja jurnalistik, melainkan juga berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya.
Buku yang menceritakan kembali pengalaman para wartawan memang bukan barang baru. Seperti dikutip dalam pengantar buku ini, pernah terbit buku Jagat Wartawan Indonesia yang ditulis oleh Soebagijo IN di tahun 1980-an. Pernah juga terbit Pistol dan Pembalut Wanita yang merupakan antologi pengalaman wartawan media cetak yang bertugas di Bandung di tahun 2007.
Namun yang membedakan Jurnalis Berkisah dengan buku-buku tersebut ialah disertakannya satu ataupun dua "kasus", berkenaan dengan profesi yang mereka jalani. Inilah yang membuat cerita mengenai para wartawan ini semakin bernas.
Misalnya saja Mauluddin Anwar yang terbang ke Lebanon untuk meliput perang yang terjadi di Beirut. Petikan kisah mereka saat berada di medan pertempuran akan menjadi hal menarik tersendiri bagi pembaca.   
Memakai sudut pandang para wartawan dari berbagai jenis media, buku ini bagaikan sebuah representasi dunia media. Lihat saja, di dalamnya ada penuturan Najwa Shihab yang mewakili televisi berita, Telni Rusmitantri yang bergelut di tabloid hiburan, Tosca Santoso yang malang melintang di jurnalisme radio, Erwin Arnada yang pernah memimpin Palyaboy Indonesia, ataupun Linda Christanty yang membangun sindikasi Aceh News Service.
Satu hal yang mengikat kesepuluh jurnalis dalam buku ini, yakni kesetiaan pada profesi dan kebenaran. Memang ada petikan kisah-kisah heroik dari para wartawan tersebut. Namun itu bukan titik sentral, namun sebagai pintu masuk pada persoalan yang lebih besar.
Memang, juru berita adalah manusia biasa. Mereka memiliki ketakutan, mereka sempat gentar, pernah terpojokkan. Sebut saja kutipan kisah Linda Christanty yang sempat merasa ragu ketika mendapat tawaran untuk untuk tinggal di Aceh. Memang, Aceh sebagai medan konflik bukanlah tempat yang dimimpikan banyak orang. Tapi toh semua itu ditepisnya. Kepedulianlah yang membawanya terbang ke Aceh.
Benar saja, ketika tiba di Serambi Mekkah, banyak hal yang dapat dilakukan oleh Linda. Memberikan penyadaran melalui berbagai medium adalah hal yang diupayakannnya. Termasuk memberdayakan banyak orang muda untuk berbuat lebih banyak bagi Aceh lewat dunia jurnalistik.
Lewat buku ini pembaca tidak hanya akan menjumpai romantisme dunia jurnalistik, melainkan kompleksnya dunia jurnalistik terutama ketika ia berbenturan dengan berbagai kepentingan. Di sini neralitas dan keberpihakan harus mencari bentuknya kembali.***

Senin, 24 September 2012

Mengamati Poster Propaganda Revolusi Kebudayaan Mao Tse Tung

Dari: Taschen.Com

 Judul:  Chinese Propaganda Posters
Essay: Anchee Min, Duo Duo, dan Stefan R Landsberger
Penerbit: Taschen, Jerman,  2011
Halaman: 320 halaman
Harga; HK $ 128

Buku ini  memang lebih memiliki banyak gambar ketimbang teks. Namun gambar yang termuat di dalam bukanlah gambar biasa. Gambar tersebut tak lain poster-poster propaganda Mao Tse Tung ketika ia memgang kekuasaan di Cina.

Seperti halnya banyak pemegang kekuasaan, Mao pun ingin mempertahankan statusnya sebagai pemimpin partai. Apalagi ia mencetuskan Revolusi Kebudayaan di negeri itu hingga tahun 1970-an. Ia menyebutanya Great Leap.

Dari poster propaganda tersebut, Mao tidak hanya mempopulerkan Revolusi Kebudayaan, melainkan juga berusaha untuk mengultuskan dirinya. Usahanya boleh dibilang berhasil. Buktinya hingga kini masih banyak orang yang percaya dengan kebenaran ajaran Mao.

Dalam poster-poster yang termuat dalam buku ini, Mao menggambarkan dirinya sebagai sosok yang dicintai oleh rakyatnya, dan  dapat membawa Cina ke arah yang kebih baik, Cina yang lebih makmur di bawah pemerintahan partai komunis.

Bahkan beberapa poster memperlihatkan pentingnya “melupakan” kepentingan diri sendiri, bahkan nyawa, untuk kepentingan partai.

Tapi toh dari beberapa catatan litartur yang ada, usaha Mao ternyata hanya isapan jempol. Usaha untuk memakmurkan Cina justru membawa penderitaan bagi rakyat. Bagaimana tidak, ketika Mao berkuasa kemiskinan semakin menjadi-jadi, kebebasan menjadi barang langka, dan tekanan terjadi kepada mereka yang dianggap memiiki orientasi ke Barat.

Poster-poster yang ada dalam buku ini paling tiak menjadi sebuah “monumen” yang mengingatkan kembali kepada siapa saja bahwa kekuasaan cenderung melanggengkan diri, dengan menghalalkan segala cara.

Kekurangan buku ini, menurut hemat saya, tidak adanya sebuah analisa yang memadai atas poster-poster tersebut. Poster-poster tersebut hanya memiliki data seputar pembuatnya, judul, dan latar belakang dibuatnya poster tersebut. Jika saja poster tersebut dilengkapi dengan kajian yang mendalam dengan melibatkan metodologi tertentu, semisal semiotik, maka buku ini akan menjadi lebih bernas.***

Salah satu contoh poster dalam buku, dari www.taschen.com
Contoh poster lain dalam buku: www.taschen.com

*) Catatan: buku ini diperoleh penulis dalam perjalanan menuju Hong Kong pada bulan September 2012. Tidak ada catatan apakah buku dijual di Indonesia atau tidak. info: www.taschen.com