Selasa, 09 Juni 2015

Kegelisahan Seorang Sinolog




Judul: Seribu Senyum dan Setetes Air Mata
Penulis: Myra Sidharta
Penerbit: Buku Kompas, 2015
Tebal: 328 Halaman

Cover buku ini menyebutkan bahwa buku ini merupakan kumpulan esai. Bagi saya tidak. Apa yang ditulis oleh Myra saya rasa lebih merupakan kumpulan catatan ataupun kolom Myra atas apa yang ditemuinya sehari-hari. Menariknya, dari catatan-catatan ini kita diajak untuk merenungkan berbagai hal, mulai dari kebudayaan, kemanusiaan, hingga politik.

Dari apa yang saya amati dari buku ini, saya melihat Myra memanng memiliki cakrawala pengetahuan yang luas, sehingga banyak hal yang dapat ia singgung dalam tulisannya. Ini, saya kira, bukan saja  merupakan hasil kejeliannya mengamati apa yang terjadi di lingkungannya, melainkan juga buah dari kekayaan subyektivitas Myra yang luar biasa. Seperti kita tahu, ia adalah seorang psikolog sekaligus sinolog yang mumpuni.

Sebagai ahli sinologi, tidak mengeherankan jika Myra beberapa kali menyampaikan sejumlah persoalan mengenai "nasib" Tionghoa peranakan di Indonesia, misalnya mengenai asimilasi yang didorong oleh Orde Baru. Karena alasan asimilasi keturunan Tionghoa di Indonesia diminta untuk mengganti nama Tionghoa dengan nama asli Indonesia.

Meskipun Myra mengatakan dirinya setuju dengan proses ini, namun toh ia tetap melihat bahwa mengganti nama Tionghoa dengan nama Indonesia bukan perkara gampang. Sebab nama Tionghoa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan daengan latar belakang budaya. Artinya, meminta mengubah nama Tionghoa sama dengan merenggut keturunan Tionghoa dari akar budaya mereka.

Hal lain yang menarik dari kumpulan tulisan Myra adalah gaya penulisan yang sangat cair dengan tambahan gaya humor sesekali. Itu yang membuat tulisan Myra enak untuk dibaca.***

Minggu, 07 Juni 2015

Indonesia di Mata Diplomat Amerika



Judul: Seperti Bulan dan Matahari
Penulis: Stanley Harsa
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, 2015
Halaman: 253 Halaman

Sebagai mantan diplomat Amerika yang lama berada di Indonesia, dengan lingakaran pergaulannya yang luas, ditambah pernikahannya dengan seorang perempuan Indonesia, penulis buku ini memiliki pemahaman yang cukup luas mengenai Indonesia. Tidak mengherankan jika pandangan-pandangannya tentang Indonesia cukup berdasar dan tidak mengesankan "hanya asal bicara".

Dalam kumpulan tulisannya ini, Harsha banyak melakukan kritik terhadap sejumlah persoalan politik, ke budayaan, serta toleransi antar umat beragama di Indonesia. Lewat kritiknya ia berusaha meluruskan pandangan orang Indonesia yang keliru memahami kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah Amerika dalam sejumlah persoalan, sebut saja mengenai terorisme setelah tragedi 911 tahun 2001. Tidak mengeherankan jika kemudian buku terkesan memiliki aroma proganda Amerika di sana-sini.

Namun, di sisisi lain ia juga tidak segan untuk mengritik pemerintah Amerika dengan kebijakan-kebijakan terkait terorisme, misalnya saja keputusan untuk menyerang Afganistan usai tragedi 911. Juga ketika Presiden Bush mengeluarkan istilah-istilah yang dapat memperkeruh suasana. Lihat saja ketika Harsha mengritik pernyataan Bush yang menyebut istilah Islamofacism. Menurutnya, istilah ini kurang tepat, dan dapat meluaskan ketidaksukaan umat Islam terhadap Amerika. Kritik serupa juga disampaikan ketika Bush menggunakan istilah "Perang Salib" yang jelas merujuk kepada perang melawan Islam.***

Senin, 01 Juni 2015

Potret Manusia Paradoksal dalam Humor


Judul: Ijab Kibul (Kumpulan Puisi Glenyengan)
Penulis: Slamet Widodo
Penerbit: Pena Kencana, 2013
Tebal: 192 Halaman (hardcover)

Mendengar kata glenyengan, serius tapi guyon alias bercanda, saya selalu teringat pada kumpulan kolom Umar Kayam yang pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Di dalam kolom-kolom tersebut Umar Kayam selalu menyampaikan sesuatu yang serius dengan cara yang jenaka.

Begitu juga dengan kumpulan puisi ini. Banyak persoalan yang terjadi di sekitar kita disampaikan dengan lewat puisi dengan gaya yang mengundang tawa. Tawa yang bukan dipicu oleh sekadar  tingkat kelucuan sebuah puisi, melainkan karena paradoks terdapat dalam puisi tersebut,

Gaya puisi Slamet Widodo mengungatkan saya pada gaya penulisan Linus Suryadi ketika menulis Pengakuan Pariyem, ataupun F Rahardi ketika menulis Migrasi Para Kampret. Gaya ini merupakan "perkawinan" antara prosa dan puisi. Di sana tak ada bahasa ataupun pilihan kata yang terlampau personal, namun bahasa  ataupun pilihan kata yang mudah dipahami oleh umum. Inilah yang membuat kumpulan puisi ini dapat dinikmati oleh siapa saja.

Saya kutipkan salah satu puisi berujudul Belajar Golf Pertama Kali,

Di tempat memukul bola
aku mencoba mengayun
kuambil yang paling ringan
kuayun-ayunkan... kediku tertawa
"Itu pater, pak, untuk di green."
dasar kampungan aku tertawa
padahal green dan pater aku tak tahu itu apa

Puisi di atas memang menggambarkan seseorang yang baru pertama main golf di kota besar. Na un secara umum ia menggambarkan karakter manusia yang selalu kikuk menghadapi sesuatu yang baru. Paradoksnya, ia tidak bertanya untuk mengetahui sesuatu yang baru, melainkan berlagak sok tahu agak tidak dikira kampungan atau dianggan ndeso.

Antologi puisi ini menarik untuk dibaca. Dari buku ini kita diperlihatkan berbagai persoalan, mulai persoalan dari politik, sosial, hingga kebudayaan.***





Perjuangan Melintasi Tembok Rasisme



Judul: Menembus Badai
Penulis: Wu Da Ying dan Peilin Go
Penerbit: Galang Pustaka, 2015
Tebal: 396 Halaman

Menjadi kelompok minoritas memang hampir selalu tak menyenangkan. Dianaktirikan, ditindas atau bahkan dihilangkan hak-hak yang dimiliki secara sepihak, adalah sesuatu yang mungkin dihadapi. Dua hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi hal ini. Pertama, bertahan dan menghadapi segalanya. Kedua, menyerah dan mencari ruang yang dapat menerima keberadaan kelompoknya.

Buku ini memberikan contoh bagaimana seseorang yang menjadi bagian dari kelompok minoritas memperoleh perlakuan yang tidak menyenangkan dari penguasa, dalam hal ini Orde Baru. Dengan bahan memori dan sejumlah literatur, Wu Da Ying menggambarkan bagaimana kelompok minoritas keturunan Tionghoa diperlakukan secara tidak adil oleh penguasa.

Membubarkan sekolah Tionghoa tanpa memberikan solusi bagi para guru ataupun siswa, dinilai sebuah tindakan perampasan hak warga negara. Bayangkan saja, ketika sekolah-sekolah itu ditutup, kemana para siswa harus melanjutkan sekolah? Bagaimana nasib para guru sekolah tersebut.

Wu Da Ying, yang lama tinggal di Indonesia secara jelas mempertanyakan alasan-alasan yang digunakan oleh penguasa untuk menutup sekolah-sekolah Tionghoa tersebut tanpa memperhatikan nasib para siswa. Padahal sebagai warga negara, mereka juga melakukan kewajiban sebagai warga negara.

Alhasil, tidak sedikit warga keturunan Tionghoa yang terpaksa angkat kaki dari Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang telah mencintai Indonesia harus meninggalkan Indonesia karena merasa hal-hak mereka sudah tidak diperhatikan.

Wu Da Ying memang memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan melanjutkan studi di luar negeri. Dengan kerja keras dan semangat ia berhasil menyelesaikan studi di bidang sains dengan cemerlang.

Dari apa yang dikisahkan oleh Wu Da Ying, ada beberapa hal yang dapat dicatat. Pertama, kerja keras dan perjuangan tanpa kenal lelah adalah kunci kesuksesan dalam hidup. Hal ini juga yang diwariskan oleh keluarga Wu Da Ying secara turun-temurun. 

Selain itu, adalah penting untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, dan membantu mereka yang memerlukan pertolongan, tanpa memandang etnis ataupun orientasi relijius orang lain***

Jumat, 29 Mei 2015

Sepeda dan Nostalgia


Judul: Simplex Nganggo Berko
Penyusun : Hermanu
Penerbit: Bentara Budaya, Yogyakarta, 2013
Tebal: 264 Halaman

Penggila sepeda onthel pasti bangga dengan koleksi sepeda yang dimilikinya. Tak jarang mereka  unjuk kegandrungan terhadap sepeda jenis ini dengan cara yang unik. Mengenakan seragam tentara tempo doloe, atau bahkan mengenakan pakaian khas pejabat Hindia Belanda masa lampau, adalah cara yang lazim dilakukan untuk menunjukkan kegemaran mereka terhadap sepeda onthel.

Sepeda onthel sendiri punya kisah yang unik. Benda ini tak sekadar alat transportasi, melainkan juga menjadi bagian dari budaya masyarakat. Salah satu buktinya adalah hadirnya syair atau gending yang berjudul Kring Kring karangan Raden Cajentus Hardjasoebrata (1905-1986) yang tinggal di Yogyakarta.

Hal-hal seperti itulah yang dapat kita temui dalam buku ini. Dapat dikatakan, buku ini merupakan salah satu upaya pendokumentasian keberadaan onthel (walaupun hanya sebagian kecil saja) di masyarakat. Dari catatan-catatan tersebut kita dapat melihat bahwa sepeda onthel menjadi salah satu ikon masyarakat masa lalu yang kini kembali dicari. Dicari kembali karena 26-40 tahun memang memiliki daya tarik yang membawa kita ke masa lalu, alias nostalgia.

Selain itu, di buku ini kita tak hanya melihat sejarah onthel, namun bagaiman onthel juga menginspirasi banyak seniman untuk menciptakan karya. Hal itu dapat kita lihat pada bab Cerita Tentang Sepeda yang berisi sejumlah cerita pendek bertema onthel.

Buku ini memang menyuguhkan kisah-kisah menarik seputar onthel. Penggemar onthel sebaiknya membaca buku ini. Sayangnya buku ini tak dijual luas, hanya dicetak sekitar 1.500 eksemplar saja. Memang, buku ini diterbitkan dalam rangka pameran onthel yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta, 2013 lalu.***