Senin, 07 Mei 2012

Seni dan Benda Seni di Mata Seorang Kolektor

Judul  : Seni dan Mengoleksi Seni
Penulis  : Oei Hong Djien
Penerbit  : Kepustakaan Populer Gramedia dan
Terbit   : I, April 2012
Halaman    :  xli + 537 Halaman
Harga    : Rp. 150.000.



Menilai sebuah benda seni dapat dilakukan oleh siapa saja, baik oleh seniman ataupun kritikus seni. Sebab, karya seni sebagai sebuah artifak, adalah objek yang “terlepas” dari kreatornya, dan setiap orang bebas untuk memaknai.

Namun, bagaimana pencinta ataupun kolektor benda seni memandang sebuah karya seni? Apakah semata untuk kepuasan pribadi, status sosial, atau komoditi investasi? Buku ini menjawab pertanyaan tersebut.

Adalah Oei Hong Djien, salah satu kolektor benda seni terkemuka Indonesia yang reputasinya diakui dunia.  Saat ini ia tidak hanya “gandrung” mengoleksi benda seni,  melainkan ikut “menyelamatkan” sejarah seni rupa modern Indonesia.

Saya katakan “menyelamatkan” karena selain menyimpan ribuan lukisan karya maestro Indonesia dan sejumlah karya kontemporer, ia juga ikut melestarikannya dengan merestorasi benda-benda seni tersebut sepanjang diperlukan.

Bahkan ia juga telah “mengembalikan” karya pelukis legendaris Indoneisa yang sudah berada di tangan kolektor di luar negeri. Cara-cara seperti ini tentu bukan gaya seorang kolektor yang menganggap karya seni sebagai komoditi, melainkan kolektor yang sungguh-sungguh mencintai karya seni, sekaligus memiliki tanggung jawab terhadap “aset” bangsa.nilai koleksinya kemudian bertambah, itu hanya sekadar keuntungan lain. Apalagi ia tidak berniat untuk menjual kembali koleksinya.

Mengenai pasar, Hong Djien memiliki sejumlah catatan. Hasil pengamatannya menunjukkan, kadang-kadang  pasar bereakasi tidak rasional. Di sini ia mempersoalkan harga pasar yang dapat melambung tinggi secara tidak wajar.

Lukisan seniman yang belum memiliki pengalaman misalnya, dapat terjual dengan harga yang sangat tinggi. Padahal kreativitas dan konsistensinya belum teruji. Hal ini dapat membawa kerugian tidak hanya bagi seniman itu sendiri melainkan juga bagi dunia seni Indonesia secara umum.

Pada kondisi  demikian, akan muncul seniman yang selalu berusaha memenuhi selera pasar. Dengan begitu, makna sebuah karya akan tereduksi, sebab ia tidak ada bedanya dengan craft yang harus diproduksi secara masal agar dapat terserap pasar.

Hong Djien sendiri menyadari, pasar adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Tanpa pasar,  seniman memang tidak bisa hidup. Tanpa transaksi  atau kegiatan jua-beli karya seni rupa tidak akan dapat berkembang. Keduanya harus saling bersinergi. Namun, kualitas sebuah karya seni harus menjadi yang utama.

Itu sebabnya Hong Djien selalu mengingatkan kepada para kolektor untuk bereaksi wajar terhadap karya seni. Menjadikan karya seni sebagai komoditi yang hanya dilihat dari sisi untung-rugi tidak akan membawa dampak positif kepada dunia seni.

Lewat buku ini Hong Djien juga berbagi pengalaman selama berinterkasi dengan seniman, mulai yang legendaris seperti Affandi hingga seniman yang jauh lebih muda seperti Made Sukadana.  Kedekatan dengan seniman dan memahami proses kreatifnya membuat ia semakin mengerti bagaimana menilai, menikmati dan menghargai sebuah karya seni.***

3 komentar:

Cinta Buku mengatakan...

Trims resensinya. tetap semangat ya. salam blogging

Lupa Nickname mengatakan...

postingnya bagus sob makasih
jangan lupa berkunjung ke web kami di
http://stisitelkom.ac.id

entahlah mengatakan...

bagus review ny ..buku nya juga bagus..
memang sekarang art makna nys sudah memudar lelbih mementingkan uang daripada nilai asli dari sebuah dari sebuah karya

www.tas-spunbond.com