Minggu, 09 Oktober 2011

Pemaknaan Hidup Jakob Oetama



Judul: Syukur Tiada Akhir
Penulis: St. Sularto
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Terbit: September 2011
Halaman: 669

Kepekaan terhadap realitas, ketajaman menganalisa, kekritisan melihat fenomena, dan kejernihan dalam berpikir, merupakan hal yang harus dimiliki wartawan. Jika tidak, ia tidak dapat berbuat banyak untuk kemanusiaan.

Itulah yang berkali-kali ditekankan oleh Jakob Oetama. Bagi tokoh pers yang lebih dari setengah abad membuktikan kesetiaannya terhadap profesi jurnalistik itu, tugas wartawan adalah kesetiaan pada obyektivitas, kebenaran dan pembangunan manusia.

Bagaimana idealisme itu terbentuk? Dalam buku ini dijelaskan, latar belakang pendidikannya di seminari, persentuhan dengan sastra Barat, serta pertemuan dengan filsafat telah menjadi ladang persemaian kepekaan dan orientasi nilainya dalam menjalankan profesi wartawan.

Bagi Jakob, pers harus bertindak bijaksana dalam masyarakat yang terus berubah. Pers harus dapat melihat gejala-gejala dan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi dalam masyarakat.

Dengan begitu, pers dapat memberikan sumbangan yang maksimal bagi masyarakat. Sebab, esensi pers ataupun media massa adalah manusia dan peristiwa kemanusiaan. Jadi, pilihan orientasinya pun harus kemanusiaan.

Baginya, pers juga harus menjadi wahana dialog antara pemerintah dan masyarakat. Tujuannya, agar pembangunan terus bergerak maju, serta dapat menjaga terselenggaranya demokrasi yang sehat.

Terkait hubungan antara pers dan kekuasaan, Jakob sempat diancam oleh pemerintah untuk menghentikan kegiatan surat kabar yang dipimpinnya. Ini terjadi pada 5 Februari 1978. Harian itu, Kompas, boleh terbit kembali jika Jakob mau menandatangani surat permintaan maaf dan kesetiaan terhadap pemerintah.

Butir yang termasuk dalam kesetiaaan tersebut diantaranya adalah tidak mempersoalkan Dwi Fungsi ABRI, tidak menurunkan berita yang memperuncing konflik, dan tidak menulis tentang asal-usul kekayaan Presiden Soeharto (hal. 24). Dengan berat hati, Jakob menandatangani surat tersebut. Hal ini mengundang pro dan kontra.

Namun Jakob punya alasan. Pertama, dengan sikap yang terkesan kompromistis itu, ia masih dapat berbuat sesuatu untuk masyarakat. Jika media sudah menjadi mayat, ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, begitu ia mengistilahkan.

Kedua, saat itu ia memikirkan hidup 2.000 karyawannya yang bergantung kepada harian itu Belum lagi mereka yang secara tidak langsung memperoleh berkah dari terbitnya harian Kompas seperti agen koran ataupun pengecer koran.

Jika saja hari itu Jakob mengikuti kehendak PK Ojong, salah satu pendiri Kompas, untuk tidak menandatangani surat itu, mungkin sejarah pun berbeda. Barangkali harian itu kini tinggal sejarah.

Namun, bagi sosok yang lebih senang disebut wartawan ketimbang pengusaha itu, apa yang ia lakukan saat itu bukanlah semata-mata hasil keputusannya, namun karena penyelenggaraan Allah (providentia dei). Itu sebabnya Jakob menekankan perlunya untuk bersyukur tiada henti untuk semua yang telah terjadi.

Buku ini tidak hanya berisi bagaimana wartawan harus menjalankan profesinya, namun juga bagaimana setiap orang harus memaknai segala peristiwa dan pencapaian dalam hidupnya sebagai anugerah dan berkat dari yang di Atas.***


Tidak ada komentar: