Rabu, 19 Oktober 2011

Melacak Jejak Kebudayaan Lewat Komik



Judul: Panji Tengkorak, Kebudayaan dalam Perbincangan
Penulis: Seno Gumira Adjidarma
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2011

Dari sebuah artifak budaya dapat dilihat bagaimana sebuah kebudayaan berlangsung. Artinya, kompleksitas budaya dapat dilihat dengan melakukan pembacaan terhadap artifak ataupun teks. Berbagai kekuatan maupun kekuasaan yang melatari sebuah budaya dapat ditelusuri lewat proses ini.

Begitu pula dengan komik. Komik sebagai sebuah artifak yang lahir dalam sebuah masyarakat, diyakini merepresantasikan kedalaman sebuah budaya. Ia tidak hanya sebuah karya seni, melainkan juga sebuah sejarah panjang ideologis, termasuk komik Indonesia.

Dikatakan sejarah panjang karena tidak ada satu pun komikus Indonesia, terutama komikus di tahun 1960-an hingga tahun 1970-an. yang membuat komik tanpa mempelajari gagasan, cara bertutur, gaya maupun teknik menggambar dari berbagai macam komik yang memasuki Indonesia, misalnya saja komik Amerika.

Hal ini memperlihatkan bahwa komik-komik asing memengaruhi perkembangan komik Indonesia. Jika ini dikaitkan dengan dinamika pemasaran, ataupun tarikan ideologi maupun politik identitas kekuasaan, maka komik Indonesia menjadi sebuah wilayah pertarungan ideologi.

Dalam buku ini, Seno Gumira ingin membuktikan hal itu lewat risetnya atas komik Indonesia. Untuk itu ia mengambil pilihan komik Panji Tengkorak. Panji Tengkorak karya Hans Jaladara pernah populer di tahun 1960-an.

Komik ini kemudian mengalami perubahan dalam setiap penerbitan ulangnya, baik dari segi visual maupun tekstual. Perubahan itu terjadi pada tahun 1985 dan tahun 1996. Dengan begitu, komik Panji Tengkorak yang ditampilkan sebagai perbandingan ialah komik dengan tahun terbitan 1968, 1985 dan 1996.

Kajian budaya yang dilakukan oleh Seno ini adalah sebuah strategi untuk membongkar aneka tarikan ideologi yang terdapat di dalamnya. Bahkan pergulatan sang autor pun dapat ditelusuri dengan metode kajian budaya ini.

Dari “pembacaan” terhadap ketiga komik tersebut, ada sejumah catatan yang dihasilkan Seno. Pertama komik adalah sebuah konstruksi realitas. Artinya dalam Panji Tengkorak terdapat tanda-tanda yang mengacu pada realitas, yakni jejak kebudayaan itu sendiri.

Komik juga berusaha melepaskan diri pembebanan wacana dominan dan pengalamiahan kebudayaan. Sebab pada dasarnya kebudayan adalah proses yang dirancang, dan bukan terjadi dengan sendirinya.

Selain itu, yang menarik, dari komik Panji Tengkorak adalah, dapat diketahuinya identitas serta kompleksitas sang pengarang, yakni Hans Jaladara, yang bernama asli Liem Tjong Han.

Dalam komik Panji Tengkorak, Hans Jaladara memang terkesan anonimistik, enggan menyebutkan identitasanya sebagai keturunan Tionghoa. Barangkali ini diakibatkan iklim diskriminatif tethdap kaum keturunan Tionghoa.

Namun, ditemukannya istilah maupun penamaan terhadap jurus silat tertentu, tampaklah isyarat bahwa pembuat komik Panji Tengkorak dekat dengan kultur Tionghoa.

Dari buku ini dapat terlihat bahwa pelacakan jejak budaya lewat kajian budaya, dapat diketahui bagaimana sebuah budaya terbetuk, serta bagaimana ideologi serta kepentingan saling bertarung di dalamnya.***


1 komentar:

Gatotys mengatakan...

komik langka semacam ini masih ada juga ya... Nice posting, dilanjutkan bro.