Jumat, 24 September 2010

Menaksir Bencana Lingkungan Hidup


Judul : Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi
Penulis : Emil Salim
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbit : I, Juni 2010
Halaman : xxviii + 355 halaman
Banyak peristiwa alam yang merugikan manusia terutama disulut oleh ulah manusia itu sendiri. Menurunnya permukaan tanah di kota-kota besar, banjir, krisis air bersih, musim yang tidak lagi dapat diprediksi, adalah fenomena alam yang muncul karena manusia tidak lagi menghargai lingkungannya.
Sayangnya, ketimbang mencari solusi, banyak negara malah berupaya untuk saling melemparkan kesalahan. Negara-negara maju dan negara berkembang saling tuding menunjuk siapa yang paling bertanggung atas meningkatnya emisi gas rumah kaca di seluruh dunia.
Sejumlah pertemuan antar negara untuk membahas hal tersebut memang terjadi, sebut saja Protokol Kyoto Jilid I (yang akan berakhir pada tahun 2012). Namun pencapaian maksimal masih urung terjadi.
Menurut Emil Salim, penulis buku Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi ini, memang tidak mudah untuk mencapai kesepakatan. Namun yang paling penting adalah bagaimana setiap negara memiliki kesadaran bahwa bumi berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Untuk itu, setiap negara perlu memiliki regulasi yang dapat mengurangi gas karbon, baik tansportasi, indutri maupun rumah tangga. Selain itu harus ada pula regulasi yang mengupayakan teknologi ramah lingkungan, serta penggunaan energi terbarukan.
Dalam buku ini Emil Salim juga menyinggung masalah pengelolaan sumber daya alam. Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam tidak hanya memunculkan masalah-masalah lingkungan, namun juga persoalan sosial.
Emil Salim mencontohkan, pembangunan pertambangan di daerah terpencil acap kali memunculkan konflik. Hal ini ini diistilahkan oleh Emil Salim sebagai akibat dari gagalnya mekanisme pasar menangkap isyarat sistem kehidupan sosial dan lingkungan.
Emil Salim juga mengkritik pembangunan di wilayah-wilayah resapan air seperti halnya Bopunjur. Menurutnya sudah sejak lama Presiden Soekarno meminta agar kawasan Bopunjur tidak banyak "diganggu". Namun hal tersebut tidak digubris, akibatnya banjir di Jakarta kian tidak terkendali.
Contoh lain pembangunan yang tidak memerhatikan dampak lingkungan adalah pembangunan jalan tol. Jalan tol memang telah menjadi "pembuluh darah" untuk mengalirkan "gula-gula" ekonomi ke sejumlah kota di sekitar Jakarta.
Sayangnya, pembangunan jalan tol tersebut telah mengorbankan ribuan hektar lahan persawahan yang akan berdampak pada ketersediaan bahan pangan, serta hilanganya ribuan hektar lahan daerah resapan air yang potensial mengakibatkan banjir dan kekeringan yang hebat.
Selain itu, tidak dapat dihindari pula, matinya beragam usaha maupun bisnis masyarakat di jalur lama, seperti rumah makan ataupun pedagang oleh-oleh. Hal ini disebabkan kendaraan lebih memilih melewati jalan tol ketimbang jalan lama.
Oleh sebab itu, Emil Salim kembali mengingatkan kita semua untuk benar-benar memperhitungan faktor lingkungan dalam pembangunan, terutama di kota-kota besar. Seakan ia juga ingin mengatakan, kota-kota yang masih gandrung membangun gedung bertingkat dan mal tanpa mengindahkan dampak lingkungan, bersiaplah menghadapi bencana yang tidak main-maiin.***

Minggu, 29 Agustus 2010

Betawi Sepanjang Jalan Kenangan


Judul : Batavia 1740, Menyisir Jejak Betawi
Penulis : Windoro Adi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : I, Agustus 2010
Halaman : 479 Halaman


Berbicara menangani etnis Betawi, tidak lagi sekadar berbicara mengenai pengaruh Arab maupun Cina. Kini persoalannya adalah bagaimana identitas etnis ini dapat bertahan seiring percepatan perubahan Jakarta yang enggan berhenti.
Jumlah pendatang yang tidak pernah surut, budaya asing yang terus menggempur, telah membuat identitas Betawi kian tidak terlihat. Padahal, semestinya, identitas budaya ini tetap kental meskipun Jakarta telah menjadi sebuah metropolitan.
Kira-kira, itulah yang ingin disampaikan Windoro Adi lewat buku ini. Ia seperti ingin memperlihatkan bahwa identitas Betawi perlahan-lahan memang tergeser dan terpinggirkan. Di sana-sini memang mencoba untuk bertahan, tetapi tetap saja menjadi bagian minor.
Sebut saja musik gambang kromong. Musik yang lahir dari kantong-kantong budaya Cina yang tersebar di sejumlah tempat di Jakarta ini, kini semakin tidak dihiraukan oleh generasi muda. Pertumbuhan kelompok musik gambang kromong dapat dipastikan jauh di bawah pertumbuhan kelompok musik pop.
Akhirnya seperti yang terlihat, pemain musik gambang kromong didominasi para pemain tua. Mereka tetap setia bermain gambang kromong bukan karena musik itu menghasilkan pendapatan yang lumayan, tetapi karena kecintaan mereka dalam memainkan musik tersebut.
Hal yang sama terjadi juga dengan lenong. Drama yang sarat komedi ini perlahan semakin jarang dilihat, baik di gedung kesenian maupun di televisi. Entah kenapa. Apakah karena kesenian ini dianggap kelas dua, sehingga kurang bernilai jual ketimbang kesenian lain seperti ketoprak misalnya.
Apakah mungkin hal tersebut disebabkan kesenian-kesenian ini belum dapat sepenuhnya tampil lebih berani, dalam arti keluar dari pakem agar lebih dapat diterima oleh masyarakat luas. Mungkin jawabannya "ya".
Jika demikian, mengapa kesenian Betawi kurang dapat beradaptasi? Padahal, sepanjang sejarah, seperti dikisahkan dalam buku ini, masyarakat Betawi sendiri sebenarnya terbentuk dari akulturasi sejumlah etnis, artinya ada sifat keterbukaan dan toleransi tersimpan di sana. Jika begitu, sebenarnya kesenian Betawi lebih dapat beradaptasi.
Kekurangpedulian otoritas terkait terhadap masalah ini menjadi salah satu faktor penyebabnya. Pembiaran terhadap masalah yang terjadi terus memperparah masalahnya. Perkembangan kota Jakarta yang tidak dapat dihentikan dan cenderung tidak terkendali, membuat identitas Betawi kian pudar.
Ketidakpedulian otoritas terkait juga terlihat dalam bagaimana cara mereka memperlakukan peninggalan peninggalan sejarah. Banyak bangunan bersejarah di Jakarta yang memang tidak mendapatkan perhatian. Banyak gedung dinyatakan sebagai heritage kota, namun gedung-gedung tersebut dibiarkan begitu saja. Bahkan nasibnya seakan tidak dihiraukan, ketika bangunan tersebut diambil alih oleh pihak swasta. Parahnya banyak gedung yang dirobohkan kendati bangunan tersebut bernilai sejarah.
Selain itu, penulis buku ini juga ingin mengajak pembaca bernostalgia. Banyak cerita mengenai suatu tempat yang disampaikan dalam buku ini yang memang hanya tinggal cerita. Misalnya saja kawasan Rawa Belong. Dikisahkan dalam buku ini bahwa Rawa Belong pada suatu masa menjadi tempat yang terkenal seantero Jakarta.
Kondanganya tempat ini tentu saja tidak telepas dari keberadaan para jagoan silat yang berada di wlayah Rawa Belong. Tidak mengherankan jika kemudian Rawa Belong jadi pusat latihan silat di masa itu. Murid-muridnya pun datang dari berbagai daerah di Jakarta. Bahkan kemudian sejumlah guru silat legendaris lahir di sini.
Tetapi dimana jejak masa emas Rawa Belong saat ini? Hampir tanpa bekas. Kini kawasan Rawa Belong lebih terkenal dengan kawasan kuliner Betawi. Beberapa kedai nasi udik Betawi mangkal di sekitar kawasan ini. Sisanya adalah pertokoan biasa dan perkampungan mahasiswa.
Untung saja, tradisi seperti "buka palang pintu", yakni adu silat dalam penyambutan pengantin laki-laki, masih dapat ditemui di wilayah itu. Dengan begitu jejak Rawa Belong sebagai "gudang" jago cingkrik (silat Betawi) masih dapat dilihat.
Selain itu, buku ini juga menyinggung beberapa jenis makanan khas Betawi. Makanan yang tebilang klasik diulas dalam buku ini, mulai dari kembang goyang, tape uli, gemblong sampai cucur. Makanan ini memang kalah pamor dengan kue-kue yang dijual di pusat-pusat belanja. Tetapi kue-kue tradisional nan klasik tentu masih mendapat tersendiri di hati masyarakat.
Makanan khas Betawi yang diulas secara khusus dalam buku ini adalah nasi kebuli. Meskipun nasi kebuli mendapatkan sentuhan dari Yaman Selatan namun orang Betawi sudah memiliki racikan spesial yang telah pas di lidah orang Betawi. Di buku ini ditulis dimana saja pembaca dapat mencicipi nasi kebuli tersebut.
Kelebihan buku ini adalah kemampuan penulisnya untuk melakukan penelusuran dan pengamatan di lapangan. Apalagi sejumlah wawancara dilakukan dengan narasumber yang tepat. Inilah yang membuat buku ini semakin hidup, terutama bagi mereka yang berada di Jakarta. Dengan membaca buku ini, pembaca akan mengetahui lebih banyak kisah maupun sejarah di balik gemerlap dan kelamnya Jakarta.
Batavia 1740 bukan sekadar ikhwal Betawi, tetapi juga sebuah cara untuk melihat bagaimana sebuah kultur terbangun dan berproses. Apakah kemudian proses tersebut akan terhenti atau justru punah karena kemajuan jaman.***

Selasa, 17 Agustus 2010

Protes Penuntasan Tragedi Mei 1998


Judul : Hotel Pro Deo
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit : Juli, 2010
Tebal : 1.016 halaman
Harga : Rp. 200.000
Novel ini bukan novel sejarah, namun di dengan latar belakang fakta historis, Remy Sylado sanggup membuat novel ini menjadi lebih hidup. Apalagi fakta historis tersebut kontroversial dan tidak terjawab tuntas hingga kini.
Penulis menilai, inilah salah satu kelebihan Hotel Pro Deo. Fakta dan fiksi berhasil “dikawinkan” sehingga menghasilkan sebuah karya yang memang patut dibaca. Mungkin inilah cara yang dilakukan oleh Remy Sylado sebagai jawaban atas kegelisahannya dalam melihat fakta sejarah, yakni peristiwa yang terjadi di sekitar Mei 1998.
Dalam novel ini Remy tidak hanya secara jelas mengisahkan peristiwa-peristiwa penting pada masa itu, mulai dari kerusuhan berbau rasial, sampai lengsernya Presiden Soeharto tetapi juga membuka kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di balik semua peristiwa itu.
Persoalan pembantaian etnis Tionghoa misalnya, Remy menggambarkan bahwa itu mungkin terjadi karena rekayasa atas dasar kepentingan tertentu. Di sini tampak, sementara ada pihak yang masih meragukan terjadinya peristiwa itu di tahun 1998, Remy “bersikeras” bahwa fakta itu ada, namun penuntasannya tidak seperti yang diharapkan.
Itulah protes Remy, seperti ia juga memrotes pejabat yang cenderung korup, menyalahgunakan wewenang, merekayasa fakta, licik dan kotor, demi mencapai tujuan tertentu. Dalam novel ini Remy menggunakan tokoh pejabat kepolisian, Kombes Dharsana untuk menunjukkan hal tersebut.
Untuk mencapai tujuannya, Kombes Dharasana yang digambarkan penggemar perempuan, tega menghilangkan nyawa anak tirinya, merekayasa fakta, sampai memanfaatkan orang lain untuk membunuh dan mencelakakan musuh-musuhnya.
Namun, diceritakan dalam buku ini, sepak terjang Dharsana memang berhasil dilumpuhkan. Apalagi salah seorang rekannya yang juga memiliki jabatan di kepolisian, Rachmat Wirjono, ikut mendukung usaha untuk menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh Dharsana.
Di titik iniah Remy seperti memiliki harapan. Ia yakin bahwa dalam lembaga yang selalu dituduh korup, masih ada sosok yang mash memiliki hati nurani, mau membela kebenaran, dan membersihkan lembaga tempatnya mengabdi dari orang-orang tidak bermoral.
Keasyikan pembaca dalam membaca novel ini bertambah karena Remy sering membahas “kesalahkaprahan” umum dalam penggunaan Bahasa Indonesia, misalnya saja penyebutan istilah “aktor intelektual”.
Menurut Remy istilah tersebut salah pakai jika ditujukan sebagai penyebutan “dalang” dari sebuah peristiwa. Menurutnya, istilah yang digunakan seharusnya adalah “auctor intellectualis”, bahasa Belanda, yang kira-kira berarti “pemikir di belakang layar”.
Kritik atas buku ini adalah, pengisahan jalannya persidangan atas Dharsana. Kisah tersebut disampaikan secara detil di bagian akhir novel ini. Menurut hemat penulis, detil jalannya persidangan tidak perlu disampaikan. Pasalnya, hal itu menjadi pengulangan atas apa yang telah diikuti oleh pembaca. Tanpa pengisahan jalannya persidangan, jalan cerita novel ini tetap kuat.
Dari novel ini, pembaca dapat belajar bahwa sebuah peristiwa besar tidak pernah berdiri sendiri, namun berdimensi luas dengan kompleksitas keterkaitan yang sulit untuk dijelaskan maupun diurai. Mungkin hanya sastra yang dapat memetakan modelnya.***
(dimuat di HU Koran Jakarta, 21 Agustus 2010)

Rabu, 11 Agustus 2010

Meluruskan Persoalan Mendasar Pesantren



Judul: Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Dian Rakyat dan Paramadina
Terbit: 2010
Tebal: xxx + 162 halaman
Harga: Rp. 45.000


Pesantren sebagai salah satu pilar pendidikan modern Islam, tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus dapat menjawab berbagai persoalan bangsa di tengah kemajuan di berbagai bidang yang tidak mungkin dihindari.

Itu sebabnya pesantaren, yang selama ini memiliki stigma sebagai lembaga pendidikan yang konservatif dan cenderung anti-modern, harus segera melakukan perbaikan. Hal tersebut bertujuan agar langkah pesantren dapat sederap dengan kemajuan, dengan tetap menjadi benteng nilai relijius.
Buku yang ditulis oleh Nurcholish Madjid ini ingin mengungkapkan masalah-masalah pokok dunia pesantren di Indonesia. Masalah-masalah itulah yang menurut Nurcholish menjadikan pesantren sulit untuk menemukan solusi masalah-masalah bangsa.

Salah satu masalah pokok yang diungkapkan Nurcholish adalah lemahnya visi dan tujuan pendirian pesanteran. Menurutnya, banyak pesantren yang gagal merumuskan tujuan dan visinya secara jelas. Ini ditambah dengan kegagalan dalam menuangkan visi tersebut pada tahapan rencana kerja ataupun program.
Akibatnya, sebuah pesantren hanya berkembang sesuai dengan kepribadian pendirinya, dengan dibantu oleh kiai maupuin pembantu-pembantulainnya. Tidak mengherankan jika semangat pesantren adalah semangat pendirinya.

Bagi Nurcholish, keterbatasan fisik dan mental pendiri pensantren itu dapat membuat pesantren menjadi kurang responsif terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.
Apabila hal ini tidak selesaikan, maka, pesantren akan dianggap tidak mampu lagi menghadapai tantangan-tantangan yang dibawa oleh kemajuan jaman dan modernisasi. Kekurangan inilah yang membuat terjadinya kesenjangan antara pesantren dengan "dunia luar".

Oleh sebab itu perubahan harus dilakukan, dalam arti mengejar ketinggalan yang telah. Namun demikian, Nurcholish mengingatkan sejumlah hal mengenai hal ini, misalnya perubahan tersebut harus dimulai dari "orang dalam" pesantren itu sendiri.

Kedua, perubahan sering tidak dapat dilakukan secara radikal. Akibtanya, perubahan dilakukan secara perlahan. Ini dapat dimulai dari perubahan kurikulum di pesantren, yang tidak hanya mengemban fungsi relijius tetapi juga keilmuan.

Inilah yang diistilahkan oleh Nurcholish sebagai amanat ganda pesantren, yakni amanat agama serta amanat keilmuan. Keduanya harus dilakukan secara serentak dan proporsional sehingga tercapai keseimbangan yang diharapkan.

Untuk itulah buku ini, seperti yang ditulis oleh Prof Malik Fajar dalam buku ini, menawarkan sebuah sintesa antara perguruan tinggi dan pesantren (hal. 121). Sintesa keduanya diharapkan dapat menjawab kebutuhan dua jenis pendidikan tersebut, yakni perguruan tinggi yang rasional namun miskin kedalaman spiritual, dan pesantren yang kuat dengan tradisi keagamaan, namun tertatih-tatih di bidang keilmuan.

Dengan membaca buku ini, pembaca dapat diajak untuk kembali memikirkan dan membenahi pesantren. Dengan upaya ini pesantren tidak lagi dianggap sebagi pilar pendidikan yang "nomor dua", tetapi justru menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat.
Dengan begitu pesantren dapat diharapkan untuk memberikan solusi atas masalah-masalah yang seakan tidak berhenti menghujani bangsa Indonesia.***

Selasa, 03 Agustus 2010

Kisah Bandung Tempo Doloe







Judul: Semerbak Bunga Di Bandung Raya
Penullis: Haryoto Kunto
Penerbit Granesia, Bandung
Tahun: 1986
Tebal: 1016 halaman

Buku ini tergolong langka dan dicari oleh banyak kolektor buku. Tidak mengherankan jika ada kolektor yang siap melepas buku setebal lebih dari 1.000 halaman ini dengan dengan harga antara 800 ribu hingga 1,4 juta rupiah.

Buku ini memang menarik. Penulisnya, almarhum Haryoto Kunto, dosen planologi Institut Teknologi Bandung, tampak banyak mengetahui seluk-beluk Kota Bandung, tidak hanya dari sisi tata letak kota, tetapi juga dari sisi sosiologis.

Hasilnya, buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, menjadi sangat berisi. Dari sini kita tidak hanya dapat melihat kisah Bandung Tempo Doloe, tetapi juga memikirkan bagaimana seharusnya Kota Bandung dikembangkan.

Hal ini diperlukan lantaran kecenderungan perkembangan Kota Bandung tidak lagi memerhatikan implikasi-implikasi yang bakal terjadi, baik secara tata ruang kota, estetika kota, ekologis, maupun kemasyarakatan.

Pembangunan mal, hotel, jalan layang, didirikannya factory outlet di jalan-jalan utama, telah membuat Kota Bandung kian sulit diatur. Hal ini disebabkan semua pembangunan itu gagal memprediksi dampak-dampak negatif yang bakal terjadi.

Tidak mengherankan jika, konon, sejumlah kawan mahasiswa arsitektur serta planologi ITB di tahun 1990-an, diwajibkan membaca buku ini agar dapat melihat bagaimana Bandung seharusnya dibangun.

Hal lain yang menarik dari buku ini yang usianya hampir seperempat abad ini adalah, banyak kisah-kisah nostalgia mengenai Bandung. Pembaca seakan diajak untuk "berkelana" ke masa lalu. Dan melihat Bandung yang masih asri, segar, serba teratur hingga dijuluki Paris Van Java.

Kisah Jalan Braga yang dulu menjadi tujuan tempat plesir tuan-tuan Belanda, hanya satu bagian kecil yang diulas oleh Haryoto Kunto dalam buku ini. Masih banyak lagi tempat yang diulas oleh Haryoto Kunto seperti kisah sungai Cikapundung, stasiun bandung, dingga kawasan Dago. Bahkan Haryoto Kunto pun sempat mengulas masalah Bandung Purba.

Buku ini memang layak dibaca tidak hanya oleh mereka yang cinta Kota Bandung tetapi juga oleh mereka yang peduli dengan koat tempat mereka tinggal, sebab dari buku dapat diketahui bagaimana sebaiknya sebuah kota diperlakukan. ***