Kamis, 10 November 2011

Senja Peradaban Citarum




Judul : Ekspedisi Citarum
Penulis : Tim Kompas
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbit : I, September 2011
Halaman : xxiii + 358 Halaman
Harga : Rp. 48.000.


Deforestasi atau pengurangan lahan hutan di hulu sungai sudah menjadi persoalan lama di Indonesia. Sungai-sungai besar di pulau-pulau utama di Indonesia mengalami hal yang sama.

Jika otoritas terkait tidak mengambil langkah cepat, maka masa depan sungai bakal terancam. Jika wilayah sekitar sungai disebut awal peradaban, maka peradaban manusialah yang terancam.

Buku ini mengetengahkan persoalan-persoalan yang tengah dihadapi oleh Citarum. Sungai yang mengalir sepanjang 269 kilometer itu, ternyata telah telah lama mengidap "penyakit" kronis.

Air yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya, adalah sebagian kecil penyakit kronis yang diderita oleh sungai dengan berbagai mitos itu. Belum lagi limbah rumah tangga maupun industri yang terus mengalir menuju Citarum.

Di bagian hulu saja misalnya, masih sekitar 700 meter dari danau Situ Cisanti, sungai yang menggerakkan turbin bendungan Jatiluhur, Saguling dan Cirata tersebut, sudah tercemar oleh limbah kotoran ternak sapi. Padahal aliran air sungai masih jernih di situ.

Hal ini diperparah dengan semakin berkurangnya vegetasi yang dapat menahan resapan hujan di sepanjang Citarum. Salah satu penyebabnya ialah berubahnya fungsi hutan, dari penahan resapan air menjadi lahan pertanian yang dikelola tanpa memerhatikan perubahan fungsi ini.

Di bagian lebih ke hilir, kondisinya lebih parah. Limbah industri tekstil, mengalir sepanjang siang dan malam menuju Citarum. Tidak mengherankan jika warna air sungai ini berubah di bagian hilir karena zat kimia. Hal ini jelas-jelas akan mengancam keberadaan ekosistem sungai.

Penyebabnya, pengelola industri tekstil tidak peduli terhadap lingkungan. Ini terbukti dengan dilanggarnya peraturan untuk melakukan pengolahan air limbah sebelum dialirkan ke sungai.

Tak ayal, sekitar 270 ton air limbah memasuki Citarum setiap harinya. Ini belum terhitung pabrik tekstil yang secara sembunyi-sembunyi membuang limbahnya pada malam hari lewat saluran air menuju sungai. Selain mencemari sungai, limbah ini telah mengganggu lingkungan sepanjang saluran air.

Dengan demikian beban Citarum kian berat. Limbah dan sampah yang dibawa anak-anak sungai Citarum menambah beban ini. Akibatnya, sungai yang seharusnya dapat memberikan kehidupan bagi penduduk Jawa Barat hingga Jakarta, terancam punah.

Persoalan paling mendasar dari semua ini adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap arti penting Citarum. Sosialisasi setengah hati dari pihak terkait telah mendorong percepatan disfungsi sungai.

Pemulihan Citarum tidak dapat dilakukan dalam semalam. Butuh proses yang panjang untuk membenahi kerusakan yang terjadi merata dari hulu ke hilir. Hanya kemauan kuat dari pemegang otoritas yang dapat mengubah keadaan ini.

Selain laporan mengenai kondisi Citarum, buku ini juga mengungkapkan sejumlah potensi daerah. Sebut saja usaha comring (comro kering) di Cimahi yang dapat memberdayakan perempuan di wilayah tersebut.

Ekspedisi Citarum bukan sekadar laporan mengenai kondisi lingkungan hidup, melainkan juga sebuah renungan mengenai mengenai peradaban yang eksistensinya terancam.***

Dimuat di HU Koran Jakarta, 17 November 2011

3 komentar:

Yayun Riwinasti mengatakan...

loh..mana ulasannya?^^

helvry mengatakan...

wah mana reviewnya nih mas.
kemarin lihat buku ini di gramed, tergoda untuk melihat isinya, namun masih tersegel. ahahaha

Gatotys mengatakan...

info yang lumayan bagus. Buku tentang peradaban / kultur/ budaya gini sangat mengesankan.