Minggu, 29 Agustus 2010

Betawi Sepanjang Jalan Kenangan


Judul : Batavia 1740, Menyisir Jejak Betawi
Penulis : Windoro Adi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : I, Agustus 2010
Halaman : 479 Halaman


Berbicara menangani etnis Betawi, tidak lagi sekadar berbicara mengenai pengaruh Arab maupun Cina. Kini persoalannya adalah bagaimana identitas etnis ini dapat bertahan seiring percepatan perubahan Jakarta yang enggan berhenti.
Jumlah pendatang yang tidak pernah surut, budaya asing yang terus menggempur, telah membuat identitas Betawi kian tidak terlihat. Padahal, semestinya, identitas budaya ini tetap kental meskipun Jakarta telah menjadi sebuah metropolitan.
Kira-kira, itulah yang ingin disampaikan Windoro Adi lewat buku ini. Ia seperti ingin memperlihatkan bahwa identitas Betawi perlahan-lahan memang tergeser dan terpinggirkan. Di sana-sini memang mencoba untuk bertahan, tetapi tetap saja menjadi bagian minor.
Sebut saja musik gambang kromong. Musik yang lahir dari kantong-kantong budaya Cina yang tersebar di sejumlah tempat di Jakarta ini, kini semakin tidak dihiraukan oleh generasi muda. Pertumbuhan kelompok musik gambang kromong dapat dipastikan jauh di bawah pertumbuhan kelompok musik pop.
Akhirnya seperti yang terlihat, pemain musik gambang kromong didominasi para pemain tua. Mereka tetap setia bermain gambang kromong bukan karena musik itu menghasilkan pendapatan yang lumayan, tetapi karena kecintaan mereka dalam memainkan musik tersebut.
Hal yang sama terjadi juga dengan lenong. Drama yang sarat komedi ini perlahan semakin jarang dilihat, baik di gedung kesenian maupun di televisi. Entah kenapa. Apakah karena kesenian ini dianggap kelas dua, sehingga kurang bernilai jual ketimbang kesenian lain seperti ketoprak misalnya.
Apakah mungkin hal tersebut disebabkan kesenian-kesenian ini belum dapat sepenuhnya tampil lebih berani, dalam arti keluar dari pakem agar lebih dapat diterima oleh masyarakat luas. Mungkin jawabannya "ya".
Jika demikian, mengapa kesenian Betawi kurang dapat beradaptasi? Padahal, sepanjang sejarah, seperti dikisahkan dalam buku ini, masyarakat Betawi sendiri sebenarnya terbentuk dari akulturasi sejumlah etnis, artinya ada sifat keterbukaan dan toleransi tersimpan di sana. Jika begitu, sebenarnya kesenian Betawi lebih dapat beradaptasi.
Kekurangpedulian otoritas terkait terhadap masalah ini menjadi salah satu faktor penyebabnya. Pembiaran terhadap masalah yang terjadi terus memperparah masalahnya. Perkembangan kota Jakarta yang tidak dapat dihentikan dan cenderung tidak terkendali, membuat identitas Betawi kian pudar.
Ketidakpedulian otoritas terkait juga terlihat dalam bagaimana cara mereka memperlakukan peninggalan peninggalan sejarah. Banyak bangunan bersejarah di Jakarta yang memang tidak mendapatkan perhatian. Banyak gedung dinyatakan sebagai heritage kota, namun gedung-gedung tersebut dibiarkan begitu saja. Bahkan nasibnya seakan tidak dihiraukan, ketika bangunan tersebut diambil alih oleh pihak swasta. Parahnya banyak gedung yang dirobohkan kendati bangunan tersebut bernilai sejarah.
Selain itu, penulis buku ini juga ingin mengajak pembaca bernostalgia. Banyak cerita mengenai suatu tempat yang disampaikan dalam buku ini yang memang hanya tinggal cerita. Misalnya saja kawasan Rawa Belong. Dikisahkan dalam buku ini bahwa Rawa Belong pada suatu masa menjadi tempat yang terkenal seantero Jakarta.
Kondanganya tempat ini tentu saja tidak telepas dari keberadaan para jagoan silat yang berada di wlayah Rawa Belong. Tidak mengherankan jika kemudian Rawa Belong jadi pusat latihan silat di masa itu. Murid-muridnya pun datang dari berbagai daerah di Jakarta. Bahkan kemudian sejumlah guru silat legendaris lahir di sini.
Tetapi dimana jejak masa emas Rawa Belong saat ini? Hampir tanpa bekas. Kini kawasan Rawa Belong lebih terkenal dengan kawasan kuliner Betawi. Beberapa kedai nasi udik Betawi mangkal di sekitar kawasan ini. Sisanya adalah pertokoan biasa dan perkampungan mahasiswa.
Untung saja, tradisi seperti "buka palang pintu", yakni adu silat dalam penyambutan pengantin laki-laki, masih dapat ditemui di wilayah itu. Dengan begitu jejak Rawa Belong sebagai "gudang" jago cingkrik (silat Betawi) masih dapat dilihat.
Selain itu, buku ini juga menyinggung beberapa jenis makanan khas Betawi. Makanan yang tebilang klasik diulas dalam buku ini, mulai dari kembang goyang, tape uli, gemblong sampai cucur. Makanan ini memang kalah pamor dengan kue-kue yang dijual di pusat-pusat belanja. Tetapi kue-kue tradisional nan klasik tentu masih mendapat tersendiri di hati masyarakat.
Makanan khas Betawi yang diulas secara khusus dalam buku ini adalah nasi kebuli. Meskipun nasi kebuli mendapatkan sentuhan dari Yaman Selatan namun orang Betawi sudah memiliki racikan spesial yang telah pas di lidah orang Betawi. Di buku ini ditulis dimana saja pembaca dapat mencicipi nasi kebuli tersebut.
Kelebihan buku ini adalah kemampuan penulisnya untuk melakukan penelusuran dan pengamatan di lapangan. Apalagi sejumlah wawancara dilakukan dengan narasumber yang tepat. Inilah yang membuat buku ini semakin hidup, terutama bagi mereka yang berada di Jakarta. Dengan membaca buku ini, pembaca akan mengetahui lebih banyak kisah maupun sejarah di balik gemerlap dan kelamnya Jakarta.
Batavia 1740 bukan sekadar ikhwal Betawi, tetapi juga sebuah cara untuk melihat bagaimana sebuah kultur terbangun dan berproses. Apakah kemudian proses tersebut akan terhenti atau justru punah karena kemajuan jaman.***

Selasa, 17 Agustus 2010

Protes Penuntasan Tragedi Mei 1998


Judul : Hotel Pro Deo
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit : Juli, 2010
Tebal : 1.016 halaman
Harga : Rp. 200.000
Novel ini bukan novel sejarah, namun di dengan latar belakang fakta historis, Remy Sylado sanggup membuat novel ini menjadi lebih hidup. Apalagi fakta historis tersebut kontroversial dan tidak terjawab tuntas hingga kini.
Penulis menilai, inilah salah satu kelebihan Hotel Pro Deo. Fakta dan fiksi berhasil “dikawinkan” sehingga menghasilkan sebuah karya yang memang patut dibaca. Mungkin inilah cara yang dilakukan oleh Remy Sylado sebagai jawaban atas kegelisahannya dalam melihat fakta sejarah, yakni peristiwa yang terjadi di sekitar Mei 1998.
Dalam novel ini Remy tidak hanya secara jelas mengisahkan peristiwa-peristiwa penting pada masa itu, mulai dari kerusuhan berbau rasial, sampai lengsernya Presiden Soeharto tetapi juga membuka kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di balik semua peristiwa itu.
Persoalan pembantaian etnis Tionghoa misalnya, Remy menggambarkan bahwa itu mungkin terjadi karena rekayasa atas dasar kepentingan tertentu. Di sini tampak, sementara ada pihak yang masih meragukan terjadinya peristiwa itu di tahun 1998, Remy “bersikeras” bahwa fakta itu ada, namun penuntasannya tidak seperti yang diharapkan.
Itulah protes Remy, seperti ia juga memrotes pejabat yang cenderung korup, menyalahgunakan wewenang, merekayasa fakta, licik dan kotor, demi mencapai tujuan tertentu. Dalam novel ini Remy menggunakan tokoh pejabat kepolisian, Kombes Dharsana untuk menunjukkan hal tersebut.
Untuk mencapai tujuannya, Kombes Dharasana yang digambarkan penggemar perempuan, tega menghilangkan nyawa anak tirinya, merekayasa fakta, sampai memanfaatkan orang lain untuk membunuh dan mencelakakan musuh-musuhnya.
Namun, diceritakan dalam buku ini, sepak terjang Dharsana memang berhasil dilumpuhkan. Apalagi salah seorang rekannya yang juga memiliki jabatan di kepolisian, Rachmat Wirjono, ikut mendukung usaha untuk menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh Dharsana.
Di titik iniah Remy seperti memiliki harapan. Ia yakin bahwa dalam lembaga yang selalu dituduh korup, masih ada sosok yang mash memiliki hati nurani, mau membela kebenaran, dan membersihkan lembaga tempatnya mengabdi dari orang-orang tidak bermoral.
Keasyikan pembaca dalam membaca novel ini bertambah karena Remy sering membahas “kesalahkaprahan” umum dalam penggunaan Bahasa Indonesia, misalnya saja penyebutan istilah “aktor intelektual”.
Menurut Remy istilah tersebut salah pakai jika ditujukan sebagai penyebutan “dalang” dari sebuah peristiwa. Menurutnya, istilah yang digunakan seharusnya adalah “auctor intellectualis”, bahasa Belanda, yang kira-kira berarti “pemikir di belakang layar”.
Kritik atas buku ini adalah, pengisahan jalannya persidangan atas Dharsana. Kisah tersebut disampaikan secara detil di bagian akhir novel ini. Menurut hemat penulis, detil jalannya persidangan tidak perlu disampaikan. Pasalnya, hal itu menjadi pengulangan atas apa yang telah diikuti oleh pembaca. Tanpa pengisahan jalannya persidangan, jalan cerita novel ini tetap kuat.
Dari novel ini, pembaca dapat belajar bahwa sebuah peristiwa besar tidak pernah berdiri sendiri, namun berdimensi luas dengan kompleksitas keterkaitan yang sulit untuk dijelaskan maupun diurai. Mungkin hanya sastra yang dapat memetakan modelnya.***
(dimuat di HU Koran Jakarta, 21 Agustus 2010)

Rabu, 11 Agustus 2010

Meluruskan Persoalan Mendasar Pesantren



Judul: Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Dian Rakyat dan Paramadina
Terbit: 2010
Tebal: xxx + 162 halaman
Harga: Rp. 45.000


Pesantren sebagai salah satu pilar pendidikan modern Islam, tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus dapat menjawab berbagai persoalan bangsa di tengah kemajuan di berbagai bidang yang tidak mungkin dihindari.

Itu sebabnya pesantaren, yang selama ini memiliki stigma sebagai lembaga pendidikan yang konservatif dan cenderung anti-modern, harus segera melakukan perbaikan. Hal tersebut bertujuan agar langkah pesantren dapat sederap dengan kemajuan, dengan tetap menjadi benteng nilai relijius.
Buku yang ditulis oleh Nurcholish Madjid ini ingin mengungkapkan masalah-masalah pokok dunia pesantren di Indonesia. Masalah-masalah itulah yang menurut Nurcholish menjadikan pesantren sulit untuk menemukan solusi masalah-masalah bangsa.

Salah satu masalah pokok yang diungkapkan Nurcholish adalah lemahnya visi dan tujuan pendirian pesanteran. Menurutnya, banyak pesantren yang gagal merumuskan tujuan dan visinya secara jelas. Ini ditambah dengan kegagalan dalam menuangkan visi tersebut pada tahapan rencana kerja ataupun program.
Akibatnya, sebuah pesantren hanya berkembang sesuai dengan kepribadian pendirinya, dengan dibantu oleh kiai maupuin pembantu-pembantulainnya. Tidak mengherankan jika semangat pesantren adalah semangat pendirinya.

Bagi Nurcholish, keterbatasan fisik dan mental pendiri pensantren itu dapat membuat pesantren menjadi kurang responsif terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.
Apabila hal ini tidak selesaikan, maka, pesantren akan dianggap tidak mampu lagi menghadapai tantangan-tantangan yang dibawa oleh kemajuan jaman dan modernisasi. Kekurangan inilah yang membuat terjadinya kesenjangan antara pesantren dengan "dunia luar".

Oleh sebab itu perubahan harus dilakukan, dalam arti mengejar ketinggalan yang telah. Namun demikian, Nurcholish mengingatkan sejumlah hal mengenai hal ini, misalnya perubahan tersebut harus dimulai dari "orang dalam" pesantren itu sendiri.

Kedua, perubahan sering tidak dapat dilakukan secara radikal. Akibtanya, perubahan dilakukan secara perlahan. Ini dapat dimulai dari perubahan kurikulum di pesantren, yang tidak hanya mengemban fungsi relijius tetapi juga keilmuan.

Inilah yang diistilahkan oleh Nurcholish sebagai amanat ganda pesantren, yakni amanat agama serta amanat keilmuan. Keduanya harus dilakukan secara serentak dan proporsional sehingga tercapai keseimbangan yang diharapkan.

Untuk itulah buku ini, seperti yang ditulis oleh Prof Malik Fajar dalam buku ini, menawarkan sebuah sintesa antara perguruan tinggi dan pesantren (hal. 121). Sintesa keduanya diharapkan dapat menjawab kebutuhan dua jenis pendidikan tersebut, yakni perguruan tinggi yang rasional namun miskin kedalaman spiritual, dan pesantren yang kuat dengan tradisi keagamaan, namun tertatih-tatih di bidang keilmuan.

Dengan membaca buku ini, pembaca dapat diajak untuk kembali memikirkan dan membenahi pesantren. Dengan upaya ini pesantren tidak lagi dianggap sebagi pilar pendidikan yang "nomor dua", tetapi justru menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat.
Dengan begitu pesantren dapat diharapkan untuk memberikan solusi atas masalah-masalah yang seakan tidak berhenti menghujani bangsa Indonesia.***

Selasa, 03 Agustus 2010

Kisah Bandung Tempo Doloe







Judul: Semerbak Bunga Di Bandung Raya
Penullis: Haryoto Kunto
Penerbit Granesia, Bandung
Tahun: 1986
Tebal: 1016 halaman

Buku ini tergolong langka dan dicari oleh banyak kolektor buku. Tidak mengherankan jika ada kolektor yang siap melepas buku setebal lebih dari 1.000 halaman ini dengan dengan harga antara 800 ribu hingga 1,4 juta rupiah.

Buku ini memang menarik. Penulisnya, almarhum Haryoto Kunto, dosen planologi Institut Teknologi Bandung, tampak banyak mengetahui seluk-beluk Kota Bandung, tidak hanya dari sisi tata letak kota, tetapi juga dari sisi sosiologis.

Hasilnya, buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, menjadi sangat berisi. Dari sini kita tidak hanya dapat melihat kisah Bandung Tempo Doloe, tetapi juga memikirkan bagaimana seharusnya Kota Bandung dikembangkan.

Hal ini diperlukan lantaran kecenderungan perkembangan Kota Bandung tidak lagi memerhatikan implikasi-implikasi yang bakal terjadi, baik secara tata ruang kota, estetika kota, ekologis, maupun kemasyarakatan.

Pembangunan mal, hotel, jalan layang, didirikannya factory outlet di jalan-jalan utama, telah membuat Kota Bandung kian sulit diatur. Hal ini disebabkan semua pembangunan itu gagal memprediksi dampak-dampak negatif yang bakal terjadi.

Tidak mengherankan jika, konon, sejumlah kawan mahasiswa arsitektur serta planologi ITB di tahun 1990-an, diwajibkan membaca buku ini agar dapat melihat bagaimana Bandung seharusnya dibangun.

Hal lain yang menarik dari buku ini yang usianya hampir seperempat abad ini adalah, banyak kisah-kisah nostalgia mengenai Bandung. Pembaca seakan diajak untuk "berkelana" ke masa lalu. Dan melihat Bandung yang masih asri, segar, serba teratur hingga dijuluki Paris Van Java.

Kisah Jalan Braga yang dulu menjadi tujuan tempat plesir tuan-tuan Belanda, hanya satu bagian kecil yang diulas oleh Haryoto Kunto dalam buku ini. Masih banyak lagi tempat yang diulas oleh Haryoto Kunto seperti kisah sungai Cikapundung, stasiun bandung, dingga kawasan Dago. Bahkan Haryoto Kunto pun sempat mengulas masalah Bandung Purba.

Buku ini memang layak dibaca tidak hanya oleh mereka yang cinta Kota Bandung tetapi juga oleh mereka yang peduli dengan koat tempat mereka tinggal, sebab dari buku dapat diketahui bagaimana sebaiknya sebuah kota diperlakukan. ***

Senin, 02 Agustus 2010

Mempertanyakan Humanitas Kolonialisme




Judul : Emilie Jawa 1904
Penulis: Catherien Van Moppes
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetak: Juli 2010
Halaman: 481 halaman


Kolonialisme tidak pernah membawa kesejahteraan bagi rakyat yang dijajah. Sehumanis apa pun wajah kolonalisme, hasilnya hanyalah dehumanisasi. Tidak mengherankan jika pemberontakan kerap terjadi bahkan ketika praktik politik etis dilaksanakan di tanah jajahan.
Itu yang dapat ditangkap dalam buku Emilie Jawa 1904 ini. Dalam buku ini digambarkan bagaimana poltik etis yang dicoba dilakukan di Hindia Belanda ternyata tetap mendapatkan penolakan dari kaum yang merasa terjajah.

Itulah yang disaksikan oleh Emilie, seorang perempuan berdarah Prancis, istri seorang asisten keamanan pemerintah kolonial. Emilie yang datang ke Jawa di tahun 1904 untuk mendampingi suaminya, Lucien, adalah tokoh sentral dalam novel ini.Ia digambarkan mengalami sendiri pergolakan di tanah jajahan pada masa itu.

Setengah bagian awal buku ini menceritakan apa saja yang dilakukan oleh Emilie sebagai persiapan untuk datang ke tanah jajahan, termasuk interaksinya dengan sejumlah pejabat pemerintah kolonial, baik di Prancis maupun Belanda.Dari interaksi inilah terlihat bagaimana pandangan orangorang di negeri kolonial dalam memandang pribumi di tanah jajahan.

Bagi pemerintah kolonial, orangorang pribumi di tanah jajahan adalah orang-orang yang dungu, primitif, dan perlu dididik untuk menjadi orangorang yang lebih beradab dan manusiawi.Oleh karenanya, dipandang perlu untuk mengukuhkan moralitas masyarakat setempat dengan membangun fondasi peradaban bagi orang Jawa yang dianggap kafir dan barbar (hal 84).

Setiba di Jawa, Lucien dibebani tugas untuk ikut mengampanyekan arti kebijakan humanis. Tugas itu dilengkapi dengan perintah untuk meredam segala bentuk gejolak yang bernada anti-Barat.Pada masa itu memang banyak muncul golongan anti-Barat yang disebut sebagai kaum idealis fanatik gaya baru. Mereka banyak dipengaruhi pemberontak serta separatis dari China, Jepang, maupun Filipina.

Emilie pun menjadi akrab dengan orang-orang yang dekat dengan dunia pergerakan. Inilah yang menjadikan pandangan serta posisi Emilie menjadi berseberangan dengan suaminya. Belakangan, hal ini menjadi legitimasi baginya untuk mengkhianati pernikahanya, lalu menjalin cinta dengan Anendo yang terkait dengan tokoh-tokoh pemberontak.

Jalinan kisah cinta antara Emilie dan Anendo tampak digunakan oleh penulis buku ini, Catherine Van Moppes, sebagai salah simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Lucien yang berada di pihak kolonial dilawan oleh Emilie yang bersimpati dengan gerakan-gerakan anti hegemoni Barat.

Catherine berhasil membawa pembaca ke dunia masa lalu yang memikat.Pada saat yang bersamaan ia juga berhasil menarik pembaca ke situasi politik dan pusaran ideologi yang berlangsung kala itu. Akhirnya, banyak pelajaran yang dapat diambil dari buku ini, terutama mengenai makna kebebasan dan kemerdekaan.***